Krisis Finansial Tenis: Petinggi Panggung Utama, Petenis Lapis Bawah Bertahan Hidup
Baca dalam 60 detik
- Petenis top dunia menuntut Grand Slam meningkatkan porsi hadiah dari 15% menjadi 22% pendapatan pada 2030, demi meringankan beban finansial pemain peringkat bawah.
- Petenis seperti Francesca Jones dan Anna-Lena Friedsam mengaku sulit mencapai titik impas meski sudah berkompetisi di level profesional, dengan biaya perjalanan dan tim yang membengkak.
- Aksi protes dan gugatan hukum oleh PTPA menjadi puncak ketidakpuasan yang telah berlangsung dua dekade, dengan pembicaraan lanjutan dijadwalkan di Paris.

Francesca Jones baru saja mencicipi kemenangan perdana di babak utama Grand Slam, membawa pulang hadiah terbesar dalam kariernya—setidaknya £75.000. Namun, di balik pencapaian itu, petenis peringkat 105 dunia ini mengungkapkan kenyataan pahit: bahkan dengan pendapatan seumur hidup mencapai £890.000, ia masih kesulitan menutup biaya operasional. Kisah Jones hanyalah puncak gunung es dari krisis finansial yang melanda petenis di luar jajaran elit, di mana tidur di van, berbagi kamar, dan memotong biaya makan menjadi rutinitas.
Ketimpangan pendapatan ini mendorong sekelompok petenis papan atas—termasuk Aryna Sabalenka, Coco Gauff, dan Jannik Sinner—untuk mendesak penyelenggara Grand Slam meningkatkan alokasi hadiah dari rata-rata 15% menjadi 22% dari pendapatan turnamen pada 2030. Sabalenka menegaskan bahwa tuntutan ini bukan untuk memperkaya diri sendiri, melainkan untuk memperjuangkan petenis lapis bawah yang tidak memiliki panggung untuk bersuara. Langkah ini diikuti dengan aksi mogok media selama 15 menit sebelum Prancis Terbuka dan gugatan hukum oleh Asosiasi Pemain Tenis Profesional (PTPA) terhadap badan pengatur tenis di AS, Inggris, dan Uni Eropa, yang dituduh melakukan penetapan harga hadiah secara horizontal.
Bagi petenis seperti Anna-Lena Friedsam, yang pernah menembus 50 besar pada 2016 namun kini terlempar ke luar 100 besar, realitasnya adalah ketergantungan total pada hadiah Grand Slam. Ia memperkirakan perlu memenangkan sekitar £300.000 per musim untuk sekadar impas—jika tidak, ia harus berkompetisi tanpa pelatih. Sementara itu, Juan Carlos Prado Angelo dari Bolivia harus membiayai perjalanan timnya yang tersebar di Argentina dan Bolivia, sebuah beban tambahan yang jarang disadari publik. Di Australia, Tristan Schoolkate memilih terbang kelas ekonomi meski harus bermain keesokan harinya, demi menekan biaya.
Konteks Indonesia: Meskipun tenis belum menjadi olahraga utama di Tanah Air, ketimpangan finansial ini relevan bagi petenis Asia Tenggara yang minim sponsor dan harus mengandalkan turnamen kecil. Petenis seperti Aldila Sutjiadi dan Christopher Rungkat mungkin tidak mengalami tekanan separah petenis Bolivia, namun biaya perjalanan dan pelatihan tetap menjadi kendala serius. Jika tuntutan pemain top berhasil, petenis dari negara berkembang bisa menikmati peningkatan hadiah di babak kualifikasi dan awal turnamen, membuka peluang lebih besar untuk bertahan di sirkuit profesional.
Petenis Australia Rinky Hijikata, yang kini merasa lebih aman secara finansial setelah dua musim di 100 besar, mengingat masa-masa sulitnya. Ia berharap generasi berikutnya tidak perlu mengalami pengorbanan serupa. Namun, dengan pembicaraan antara pemain top dan Grand Slam yang masih berlangsung, pertanyaan besarnya adalah: akankah perubahan struktural benar-benar terjadi, atau hanya menjadi wacana tanpa ujung?



