China Hentikan Ekspor Tungsten ke Jepang, Sinyal Perang Dagang Baru?
Baca dalam 60 detik
- China menghentikan pengiriman tungsten karbida dan bubuk tungsten ke Jepang sejak Februari 2026, menyusul penguatan kontrol ekspor barang dual-use pada Januari.
- Langkah ini dipicu oleh pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi soal kemungkinan keterlibatan militer Jepang dalam konflik Taiwan, yang memicu ketegangan diplomatik.
- Indonesia, sebagai importir tungsten dan komponen otomotif, berpotensi terkena dampak rantai pasok global jika ketegangan berlanjut.

China secara efektif menghentikan ekspor produk tungsten tertentu ke Jepang sejak awal tahun ini, menurut data bea cukai China yang dirilis Rabu (28/5). Langkah ini terjadi di tengah memburuknya hubungan bilateral setelah pernyataan kontroversial Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengenai kemungkinan pengerahan pasukan Jepang ke Taiwan jika terjadi konflik dengan China.
Data menunjukkan bahwa antara Februari hingga April 2026, tidak ada pengiriman tungsten karbida dan bubuk tungsten dari China ke Jepang. Padahal, hingga Januari lalu, pengiriman masih berlangsung. China memperketat kontrol ekspor untuk barang-barang dual-use—yang memiliki aplikasi sipil dan militer—sejak Januari, dan tungsten masuk dalam daftar tersebut. Tungsten merupakan logam langka yang sangat penting dalam industri manufaktur berteknologi tinggi, terutama untuk memproduksi karbida semen yang digunakan pada ujung alat potong untuk memproses komponen otomotif.
China menguasai sekitar 80 persen produksi bijih tungsten global. Dengan pangsa sebesar itu, penghentian ekspor ke Jepang langsung dirasakan oleh industri setempat. Pada 12 Mei lalu, Sumitomo Electric Industries Ltd. mengonfirmasi bahwa pengiriman tungsten dari China benar-benar terhenti. Perusahaan tersebut mengaku telah mengamankan pasokan dari Amerika Serikat dan melalui daur ulang material untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Ketegangan ini bermula dari pernyataan Takaichi di parlemen Jepang pada November lalu yang menyebutkan bahwa Jepang dapat mengerahkan pasukan pertahanan untuk mendukung Amerika Serikat jika Taiwan—yang diklaim Beijing sebagai bagian dari China—diserang oleh daratan China. Beijing bereaksi keras dan memperketat kontrol ekspor barang dual-use ke Jepang, meskipun Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa langkah tersebut tidak dimaksudkan untuk mengganggu perdagangan sipil normal.
Bagi Indonesia, perkembangan ini perlu dicermati. Meskipun bukan importir utama tungsten langsung dari China, Indonesia sangat bergantung pada impor komponen otomotif dan peralatan mesin yang menggunakan tungsten. Jika rantai pasok global terganggu, harga komponen tersebut berpotensi naik. Selain itu, Indonesia juga memiliki industri alat potong dan pertambangan yang menggunakan karbida semen. Dalam jangka panjang, ketegangan ini bisa mendorong diversifikasi pasokan mineral kritis, termasuk kemungkinan kerja sama dengan negara produsen tungsten lain seperti Vietnam atau Rusia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah China akan memperluas pembatasan ekspor ke negara lain, terutama yang dianggap dekat dengan Amerika Serikat dalam isu Taiwan. Atau, apakah Jepang akan merespons dengan kebijakan perdagangan balasan? Yang jelas, tungsten menjadi komoditas strategis baru dalam perang dagang teknologi yang kian memanas.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7253855/original/001124500_1780039906-3.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7315060/original/005258400_1780100553-Jemaah_haji_Indonesia_berjalan_dari_tenda_Mina_ke_Jamarat.__dok._Media_Center_Haji_2026__.jpg)