Rupiah Tembus Rp17.800, Menteri Keuangan: Fundamental Nggak Masuk Akal
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai level rupiah saat ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi yang solid.
- Pertumbuhan di atas 5%, inflasi terkendali, dan defisit transaksi berjalan yang rendah menjadi dasar optimisme penguatan rupiah.
- Pemerintah dan Bank Indonesia menyiapkan kebijakan tambahan untuk mendorong apresiasi rupiah, ditopang oleh masuknya investor asing.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka menyatakan bahwa posisi nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.800 per dolar AS saat ini tidak masuk akal jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi Indonesia. Menurutnya, rupiah seharusnya bisa lebih kuat dari level tersebut.
"Sebetulnya gak masuk akal," ujar Purbaya di Kantor Direktorat Jenderal Pajak, Kemenkeu, Rabu (27/5/2026). Pernyataan ini muncul di tengah tekanan global yang mendorong penguatan dolar AS secara signifikan, membuat rupiah dan mata uang negara lain ikut terdepresiasi.
Purbaya merinci sejumlah indikator fundamental yang masih solid: pertumbuhan ekonomi di atas 5%, inflasi yang terjaga sesuai sasaran, serta defisit transaksi berjalan yang terkendali. Namun, ketidakpastian global—termasuk kebijakan moneter AS dan tensi geopolitik—telah membuat dolar AS menguat terhadap hampir semua mata uang, termasuk rupiah.
Pemerintah dan Bank Indonesia telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk menahan laju pelemahan rupiah, termasuk mengendalikan pasokan dolar AS di dalam negeri. Langkah-langkah ini dinilai belum cukup untuk membalikkan tren, meski Purbaya mengisyaratkan akan ada tindakan tambahan. "Dan ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu rupiah meningkat signifikan," jelasnya tanpa merinci lebih lanjut.
Di sisi lain, Menteri Keuangan melihat tanda-tanda positif dari mulai masuknya investor asing ke Indonesia. Menurutnya, ini menjadi modal berharga untuk membangun kembali kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional. "Purbaya sudah melihat aktivitas investor asing yang mulai masuk ke dalam negeri. Ini merupakan modal bagus bagi Indonesia untuk melanjutkan kepercayaan investor," katanya.
Bagi pelaku pasar dan investor di Indonesia, pernyataan Purbaya memberikan sinyal bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Namun, efektivitas kebijakan ke depan akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan fiskal dan moneter, serta perkembangan global yang masih sulit diprediksi. Pertanyaan besarnya, akankah intervensi tambahan mampu mendorong rupiah kembali ke level yang lebih wajar dalam waktu dekat?



