Destruction AllStars: Game Eksklusif PS5 yang Tenggelam dalam Sunyi
Baca dalam 60 detik
- Game pertarungan kendaraan multipemain Destruction AllStars resmi dihapus dari PlayStation Store dan server ditutup pada 26 Mei 2026.
- Rilis sebagai eksklusif PS5 pada 2021, game buatan Lucid Games gagal menarik perhatian pemain dan kini lenyap tanpa gaung.
- Pemilik game masih bisa mengunduh dan memainkan mode pemain tunggal hingga 25 November 2026, sebelum akses penuh dihentikan.

Destruction AllStars, game pertarungan kendaraan multipemain yang sempat digadang-gadang sebagai salah satu eksklusif perdana PlayStation 5, resmi ditarik dari PlayStation Store dan server daringnya dimatikan pada Selasa, 26 Mei 2026. Langkah ini menandai akhir dari perjalanan singkat game yang dirilis pada Februari 2021 itu, yang sejak awal tidak pernah benar-benar mencuri perhatian para gamer.
Dikembangkan oleh Lucid Games, Destruction AllStars menawarkan konsep pertarungan kendaraan berbasis arena yang mirip dengan seri Twisted Metal atau Vigilante 8. Namun, meskipun mendapat dukungan dari Sony sebagai judul eksklusif, game ini gagal menciptakan basis pemain yang solid. Kritikus menilai gameplay yang repetitif dan kurangnya konten pada saat peluncuran menjadi faktor utama kegagalannya.
Penarikan Destruction AllStars dari peredaran bukanlah kejutan besar. Sejak awal, game ini hanya mendapat sambutan hangat, dengan skor Metacritic di kisaran 60-an. Dalam industri game yang kompetitif, game multipemain yang tidak mampu mempertahankan pemain dalam jangka panjang seringkali bernasib serupa. Sony sendiri tampaknya telah mengalihkan fokus ke judul-judul lain yang lebih potensial.
Bagi para gamer yang sudah sempat menambahkan Destruction AllStars ke perpustakaan digital mereka, masih ada secercah harapan. Mereka masih bisa mengunduh dan memainkan mode pemain tunggal hingga 25 November 2026. Setelah tanggal tersebut, akses ke game ini akan sepenuhnya terputus, bahkan untuk konten yang sudah dimiliki.
Fenomena ini mengingatkan pada nasib game-game multipemain lain yang gagal bertahan, seperti LawBreakers atau Battleborn. Dalam kasus Destruction AllStars, meskipun menjadi bagian dari program PS Plus bulanan pada Maret 2021, hal itu tidak cukup untuk membangun komunitas yang berkelanjutan. Model bisnis yang mengandalkan pembelian penuh tanpa dukungan konten reguler juga menjadi kelemahan.
Bagi pemain Indonesia, kejadian ini menjadi pelajaran berharga. Meskipun pasar game di Tanah Air terus tumbuh, tidak semua game eksklusif konsol mampu bertahan. Banyak gamer Indonesia yang lebih memilih game dengan model free-to-play atau langganan yang menawarkan konten terus-menerus. Kepergian Destruction AllStars juga menegaskan bahwa strategi eksklusivitas bukanlah jaminan kesuksesan, terutama jika kualitas dan daya tarik game tidak sesuai ekspektasi.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Sony akan mengambil pelajaran dari kegagalan ini? Dengan semakin ketatnya persaingan di industri game, terutama dari layanan berlangganan seperti Xbox Game Pass, Sony perlu lebih selektif dalam memilih proyek eksklusif yang didanainya. Atau, akankah Destruction AllStars menjadi salah satu dari sekian banyak game yang tenggelam dalam sejarah PlayStation?



