Serikat Pekerja Film India Boikot Ranveer Singh: Bintang Besar Tak Boleh di Atas Aturan
Baca dalam 60 detik
- FWICE mengeluarkan arahan non-kooperasi terhadap Ranveer Singh setelah ia diduga mundur mendadak dari film Don 3, menyebabkan kerugian produksi Rp72 miliar.
- Langkah ini menyoroti ketegangan antara bintang besar dan disiplin industri, dengan serikat menegaskan bahwa aturan berlaku untuk semua.
- Kasus ini berpotensi memengaruhi hubungan kerja di industri film India dan menjadi preseden bagi penanganan kontrak artis.

Federasi Pekerja Film India Barat (FWICE), serikat yang mewakili ribuan kru film dan televisi, secara resmi meminta anggotanya untuk tidak bekerja sama dengan aktor papan atas Ranveer Singh. Keputusan ini dipicu oleh dugaan pengunduran diri mendadak Singh dari film Don 3, yang disebut telah menghabiskan dana praproduksi sekitar 450 juta rupee atau setara Rp72 miliar.
Menurut pernyataan resmi FWICE, sang aktor mundur hanya tiga minggu sebelum jadwal syuting dimulai. Produser, yang dipimpin oleh Farhan Akhtar, telah mengeluarkan biaya besar untuk persiapan dan jadwal luar negeri. Ketua FWICE BN Tiwari menegaskan, "Kami ingin mengirim pesan ke industri bahwa seorang superstar tidak lebih besar dari aturan." Arahan ini bukan larangan resmi, namun cukup kuat untuk memengaruhi proyek-proyek yang melibatkan Singh.
Ranveer Singh, yang dikenal lewat film seperti Padmaavat dan Gully Boy, belum memberikan tanggapan resmi. Timnya dikabarkan mempertanyakan otoritas FWICE untuk memaksanya hadir dalam mediasi. Sementara itu, juru bicara Singh menyatakan bahwa aktor tersebut memiliki rasa hormat tinggi terhadap industri dan waralaba Don, dan memilih diam demi menjaga profesionalisme. BBC telah menghubungi tim Singh namun belum mendapat respons.
Waralaba Don sendiri memiliki tempat khusus di hati penggemar Bollywood. Pertama kali dipopulerkan oleh Amitabh Bachchan pada 1978, film ini kemudian di-reboot oleh Farhan Akhtar dengan Shah Rukh Khan sebagai pemeran utama. Don 3 yang diumumkan pada 2023 diharapkan menjadi tonggak baru dengan Singh sebagai pemeran utama. Konflik ini tidak hanya mengancam kelanjutan film, tetapi juga memicu perdebatan tentang profesionalisme di industri hiburan India.
Reaksi publik terbelah. Sebagian pengguna media sosial menilai Singh menjadi sasaran tidak adil, mengingat banyak aktor lain yang juga mundur dari proyek tanpa konsekuensi serupa. Namun, yang lain mendukung langkah FWICE, dengan alasan bahwa produksi skala besar membutuhkan komitmen ketat. "Dia membayar harga karena tidak profesional," tulis salah satu warganet.
Bagi industri film Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya kontrak yang jelas dan sanksi tegas terhadap pelanggaran. Di Tanah Air, perselisihan serupa antara artis dan rumah produksi kerap terjadi, namun jarang berujung pada boikot resmi. Pengamat film Indonesia, Ery Sofid, menilai bahwa langkah FWICE bisa menjadi preseden bagi serikat pekerja kreatif di Asia Tenggara. "Ini menunjukkan bahwa kekuatan bintang tidak boleh mengabaikan tata kelola industri yang sehat," ujarnya.
Ranveer Singh bukanlah wajah asing dalam kontroversi. Pada 2025, ia menuai kritik setelah menirukan ritual dari film Kantara dalam sebuah festival, yang dianggap melecehkan budaya lokal. Ia kemudian meminta maaf. Sebelumnya, pada 2015, ia terlibat dalam kontroversi komedi roast yang memicu laporan polisi dan perdebatan tentang kebebasan berekspresi.
Ke depan, nasib Don 3 masih menggantung. Apakah FWICE akan mencabut arahan jika Singh bersedia bertemu? Ataukah ini akan menjadi titik balik bagi hubungan antara bintang dan serikat pekerja di Bollywood? Pertanyaan-pertanyaan ini menanti jawaban dari sang aktor.



