Mary Bonnet Tinggalkan Selling Sunset: Kecewa dengan Arah Acara yang Tak Lagi Positif
Baca dalam 60 detik
- Mary Bonnet resmi hengkang dari Selling Sunset setelah delapan musim, mengkritik perubahan arah yang dianggap menjauh dari pemberdayaan perempuan.
- Keputusan ini dipicu oleh ketidakpuasan terhadap penyuntingan musim kesembilan yang dinilai tidak adil dan merusak citra dirinya.
- Kepergian Mary bergabung dengan sejumlah bintang lain seperti Chrishell Stause dan Nicole Young, menandai gelombang eksodus besar di musim kesepuluh.

Mary Bonnet, salah satu bintang orisinal Selling Sunset, mengonfirmasi bahwa ia tidak akan kembali untuk musim kesepuluh acara realitas Netflix tersebut. Keputusan ini diambil setelah ia merasa kecewa dengan arah produksi yang dinilai tidak lagi mencerminkan semangat pemberdayaan perempuan seperti yang ia yakini saat pertama kali bergabung pada 2019.
Dalam wawancara dengan People, perempuan berusia 45 tahun itu mengungkapkan bahwa ketidakpuasannya sudah terlihat sejak akhir musim kesembilan. โSaya tidak setuju dengan arah kantor dan acara ini. Saya pikir ini akan menjadi tontonan positif untuk perempuan dan industri real estat, tapi ternyata melenceng,โ ujarnya. Ia juga menyoroti praktik penyuntingan yang menurutnya โsangat tidak adilโ dan membuatnya tampak seolah-olah bereaksi berlebihan sepanjang musim.
Bonnet menambahkan bahwa banyak konteks percakapan yang dihilangkan, sehingga gambaran yang ditampilkan justru merugikan. โSaya tidak akan terlibat dalam hal yang merusak seperti itu,โ tegasnya. Meski demikian, ia membuka kemungkinan untuk tampil sebagai bintang tamu di masa mendatang, dan menegaskan bahwa posisinya sebagai wakil presiden di The Oppenheim Group tidak berubah.
Kepergian Bonnet bukanlah kasus terisolasi. Sebelumnya, TMZ melaporkan bahwa setidaknya lima bintang utama tidak akan kembali untuk musim kesepuluh. Chrishell Stause, yang sempat berseteru dengan Nicole Young, juga mengonfirmasi dirinya mundur. Dalam wawancara dengan Bustle, Stause mengaku secara finansial sudah tidak bergantung pada acara itu dan lebih memilih menjaga kesehatan mental. โSaya tidak punya niat buruk. Acara ini memberi saya banyak kesempatan, meski saya pergi dengan cara yang tidak saya inginkan,โ katanya.
Bagi penggemar Selling Sunset di Indonesia, fenomena ini menarik karena menunjukkan dinamika di balik layar produksi realitas global. Tayangan seperti ini kerap menjadi referensi gaya hidup dan properti mewah, namun konflik internal para bintang justru menjadi sorotan. Kepergian massal ini bisa mempengaruhi popularitas acara di platform streaming, terutama jika Netflix tidak segera mengumumkan wajah-wajah baru yang segar.
Hingga kini, Netflix belum mengonfirmasi daftar pemain resmi untuk musim kesepuluh. Dengan hengkangnya sejumlah nama besar, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Selling Sunset mempertahankan daya tariknya tanpa para bintang yang telah membangun basis penggemar setia selama bertahun-tahun? Atau justru ini menjadi awal dari transformasi yang lebih sehat dan sesuai dengan visi awal yang diimpikan Mary Bonnet?



