Dari Kamar Tidur ke Layar Bioskop: Kisah Kane Parsons dan Fenomena The Backrooms
Baca dalam 60 detik
- Kane Parsons, sutradara berusia 20 tahun, menggarap film horor Backrooms untuk A24 setelah video YouTube buatannya viral.
- Film ini berangkat dari creepypasta dan estetika liminal space yang lahir di forum 4chan, lalu dikembangkan Parsons dengan logika internal yang ketat.
- Kesuksesan Backrooms menjadi uji coba jalur langsung antara kreator internet dan Hollywood, khususnya di genre horor.

Seorang remaja asal Petaluma, California, yang memulai karier dengan kamera murah dan laptop seadanya, kini menjadi sutradara termahal yang pernah digaet studio A24. Kane Parsons, yang dikenal dengan nama Kane Pixels di YouTube, berhasil membawa mitologi horor The Backrooms dari forum anonim 4chan ke layar lebar, menandai pergeseran signifikan dalam cara industri film mencari bakat baru.
Pada Januari 2022, Parsons mengunggah video berdurasi sembilan menit yang menggambarkan labirin ruang kuning tak berujung. Video itu, yang dibuat menggunakan perangkat lunak gratis Blender dan Adobe After Effects, langsung meledak: dari satu juta menjadi tujuh juta penayangan dalam dua hari. Kini, serial webnya telah mengumpulkan hampir 200 juta penayangan. Kesuksesan itu menarik perhatian produser Shawn Levy dan maestro horor James Wan, yang kemudian menggaet A24 untuk memproduksi film layar lebar yang akan tayang pada 29 Mei.
Fenomena The Backrooms bermula pada 2019, ketika seorang pengguna anonim di forum 4chan mengunggah foto lorong bercat kuning yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Balasan anonim lainnya menciptakan cerita pendek tentang "noclipping"โistilah dari video game yang berarti menembus dinding atau lantaiโyang membawa seseorang ke dimensi lain berupa ruang kosong seluas 600 juta mil persegi. Cerita ini menjadi creepypasta klasik yang menyebar luas, dan gambar aslinya menjadi ikon estetika "liminal space": tempat transisi yang terasa akrab namun mengganggu.
Parsons, yang saat itu berusia 14 tahun, terpikat oleh gambar tersebut. Dalam wawancara dengan Esquire, ia menggambarkannya sebagai "arketipe malapetaka". Dengan keterampilan animasi dan efek visual yang dipelajarinya secara otodidak, ia menciptakan versi Backrooms yang berbeda dari interpretasi lain. Ia menekankan logika internal yang ketat: horor muncul dari insting manusia untuk memetakan dan memahami ruang, lalu digagalkan oleh lingkungan yang tak berujung. "Bagian dari horor adalah disorientasi dan ketakutan yang dihasilkan oleh lingkungan yang tampaknya tidak pernah berakhir," ujarnya.
Film Backrooms, yang berlatar tahun 1990, dibintangi Chiwetel Ejiofor sebagai Clark, pemilik toko furnitur yang menemukan portal ke dunia lain di ruang bawah tanahnya. Ketika Clark menghilang, terapisnya (Renate Reinsve) masuk untuk menyelamatkannya. Parsons menjadi sutradara termuda dalam sejarah A24, mengalahkan rekor sebelumnya. Namun, ia bukanlah kreator internet pertama yang menembus Hollywood. Sebelumnya, saudara Phillipou (Talk To Me) dan Curry Barker (Obsession) juga memulai dari YouTube.
Yang membedakan Backrooms dari adaptasi internet lainnya adalah perlakuan terhadap mitologi asli. Alih-alih dijadikan sekadar alat pemasaran, cerita dan estetika yang sudah mapan dipertahankan utuh. "Kekayaan intelektual yang sudah ada diperlakukan sebagai aset, bukan sekadar kail," tulis analis industri. Hal ini menjaga elemen-elemen yang menarik audiens awal, sekaligus membangun narasi tradisional di atasnya.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat maraknya kreator konten horor di platform seperti YouTube dan TikTok. Banyak pembuat film independen Indonesia yang memulai dari kanal digital, namun jarang yang berhasil menembus layar lebar dengan dukungan studio besar. Kisah Parsons bisa menjadi inspirasi bahwa jalur dari kamar tidur ke bioskop bukan lagi mimpi, asalkan ada konsistensi visi dan kualitas teknis. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah industri perfilman Indonesia siap mengadopsi model "pipeline" serupa, atau justru akan tetap bergantung pada jalur tradisional.
Kesuksesan Backrooms di box office akan menjadi ujian nyata apakah formula ini berkelanjutan. Jika film ini meraih sukses komersial, bukan tidak mungkin studio-studio lain akan lebih agresif memburu kreator YouTube. Sebaliknya, jika gagal, Hollywood mungkin akan kembali ke pola lama. Yang jelas, Parsons telah membuktikan bahwa noclipping tidak hanya terjadi di dunia mayaโia telah menembus tembok industri yang selama ini sulit ditembus.



