Optimisme Damai AS-Iron Meredup, Harga Minyak Kembali Terbang ke Atas US$98
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent dan WTI kompak naik setelah pasar mulai skeptis terhadap prospek cepat kesepakatan damai AS-Iran.
- Ketidakpastian soal detail negosiasi, termasuk pencairan aset Iran dan nasib Selat Hormuz, memicu aksi beli aset berisiko.
- Analis memperingatkan gangguan pasokan energi masih akan berlangsung, berpotensi memperpanjang tekanan inflasi global.

Harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik pada perdagangan Selasa (26/5/2026), setelah sehari sebelumnya ambrol ke level terendah dalam dua pekan. Pergerakan ini mencerminkan sikap ragu pelaku pasar terhadap prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai masih jauh dari kata final.
Berdasarkan data Refinitif hingga pukul 09.35 WIB, minyak Brent kontrak Juli melesat ke US$98,12 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) terpantau di US$91,77 per barel. Padahal, pada Senin lalu Brent ditutup di US$96,14 per barel, setelah pada 22 Mei masih bertengger di US$103,54. Dalam sepekan terakhir, Brent kehilangan lebih dari US$15 dari puncak US$112,1 per barel pada 18 Mei. WTI pun mengalami koreksi serupa, dari US$108,66 per barel pada 18 Mei menjadi sekitar US$91-an.
Tekanan jual besar terjadi awal pekan ini ketika pasar bereuforia atas kabar bahwa Washington dan Teheran semakin dekat menandatangani nota kesepahaman yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, euforia itu mulai pudar setelah kedua pihak meredam ekspektasi. Presiden AS Donald Trump meminta tim negosiasinya untuk tidak terburu-buru, dan menegaskan blokade terhadap kapal Iran di Selat Hormuz tetap berlaku hingga kesepakatan resmi ditandatangani.
Pasar mulai menyadari bahwa kesepakatan damai masih dibelit detail rumit. Isu pelepasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, masa depan program nuklir Teheran, serta posisi Israel dalam perundingan menjadi sumber ketidakpastian baru. Media Iran Tasnim melaporkan bahwa Washington masih menghambat beberapa klausul utama, terutama terkait pencairan dana minyak Iran yang tertahan akibat sanksi. Di sisi lain, militer AS pada Senin tetap melancarkan serangan ke wilayah Iran selatan, menargetkan kapal yang diduga memasang ranjau dan lokasi peluncur rudal, yang disebut sebagai langkah defensif.
Kondisi ini membuat investor kembali menghitung ulang risiko pasokan global. Fokus utama tetap pada Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia. Blokade di kawasan itu selama konflik telah mengganggu arus pasokan Timur Tengah dan mendorong harga energi melonjak tajam sepanjang Mei. Nikkei melaporkan bahwa AS dan Iran tengah membahas rencana pembukaan Hormuz sekitar 30 hari setelah kesepakatan damai, namun belum ada kepastian kapan perjanjian akan diteken.
Keraguan itu juga terlihat di pasar keuangan lain. Bursa Asia bergerak campuran pada Selasa pagi; Nikkei Jepang melemah tipis setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 3% karena harapan damai. Dolar AS menguat tipis karena permintaan aset aman meningkat. Pasar obligasi masih dibayangi kekhawatiran inflasi, dengan lonjakan harga energi beberapa pekan terakhir membuat investor memperhitungkan kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama di negara maju maupun emerging markets.
Kepala riset global Standard Chartered, Eric Robertsen, menilai gangguan pasokan komoditas tidak akan selesai dalam waktu singkat. Menurutnya, dampak perang dan kebutuhan dukungan fiskal pemerintah dapat memperburuk kondisi utang negara di tengah biaya pendanaan yang mahal. Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, pasar energi diperkirakan akan tetap volatil dalam waktu dekat.



