Thailand Berlakukan Karantina 21 Hari bagi Pelancong dari DRC dan Uganda Akibat Ebola
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Thailand mewajibkan karantina 21 hari bagi siapa pun yang datang dari atau transit di Republik Demokratik Kongo dan Uganda, menyusul lonjakan kasus Ebola di kawasan tersebut.
- Langkah ini diambil meskipun belum ada kasus Ebola terdeteksi di Thailand, sebagai antisipasi terhadap risiko penyebaran global melalui mobilitas penduduk.
- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 200 kematian dan 900 kasus suspek di DRC, serta mengkhawatirkan penyebaran yang lebih luas dari yang dilaporkan.

Pemerintah Thailand secara resmi memberlakukan kebijakan karantina selama 21 hari bagi seluruh pelancong yang berasal dari atau pernah transit di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda. Keputusan ini diumumkan pada Selasa (21/5) sebagai respons terhadap merebaknya wabah Ebola di Afrika Timur yang telah memicu status siaga internasional dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Menurut pernyataan Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand, aturan ini berlaku bagi semua pelancong tanpa memandang ada atau tidaknya gejala infeksi Ebola. Mereka yang menunjukkan gejala harus menjalani karantina di rumah sakit rujukan negara, sementara yang tidak bergejala akan ditempatkan di lokasi karantina yang ditentukan. Pejabat senior kementerian, Somlerk Jeungsmarn, menegaskan bahwa meskipun Thailand belum mencatat adanya pelancong yang terinfeksi, risiko dari pergerakan populasi global tetap harus diantisipasi.
Ebola adalah penyakit virus mematikan yang menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, menyebabkan pendarahan parah dan gagal organ. Wabah saat ini berpusat di wilayah timur DRC, yang oleh WHO disebut sebagai episentrum global. Badan PBB tersebut juga memperingatkan bahwa penyebaran virus kemungkinan lebih luas dari data yang ada, karena diduga telah beredar tanpa terdeteksi selama beberapa waktu.
Kebijakan karantina Thailand ini menjadi salah satu langkah paling ketat di kawasan Asia Tenggara dalam merespons wabah Ebola. Langkah serupa sebelumnya pernah diterapkan saat pandemi COVID-19, namun kini diadaptasi untuk menghadapi ancaman Ebola. Para ahli kesehatan masyarakat menilai bahwa pendekatan proaktif ini penting untuk mencegah impor kasus, mengingat mobilitas global yang tinggi dan masa inkubasi virus yang bisa mencapai 21 hari.
Ke depan, efektivitas kebijakan ini akan sangat bergantung pada kepatuhan pelancong dan kemampuan sistem karantina Thailand dalam mengisolasi individu tanpa gejala. Jika wabah di Afrika terus meluas, bukan tidak mungkin negara-negara lain akan mengikuti langkah serupa. Thailand sendiri terus memantau perkembangan situasi dan siap menyesuaikan protokol sesuai rekomendasi WHO.



