Iran Ancam Kabel Bawah Laut, Titik Rawan Digital Global Makin Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Media pro-pemerintah Iran mengusulkan pungutan bagi operator kabel internet bawah laut di Selat Hormuz, menyusul peringatan Tehran tentang kerentanan infrastruktur digital di kawasan tersebut.
- Lebih dari 95% lalu lintas data internasional bergantung pada 500 kabel bawah laut yang terkonsentrasi di titik-titik sempit seperti Selat Hormuz, menciptakan risiko kegagalan sistemik jika terjadi gangguan.
- Ancaman terhadap kabel bawah laut tidak hanya berdampak pada konektivitas internet, tetapi juga stabilitas pasar keuangan, rantai pasok energi, dan koordinasi militer global.

Ancaman baru terhadap infrastruktur digital global muncul setelah media yang terafiliasi dengan pemerintah Iran mengusulkan pengenaan biaya akses bagi operator kabel internet bawah laut yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini mempertegas kerentanan jaringan komunikasi dunia yang sebagian besar bergantung pada kabel bawah laut.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur strategis pengiriman minyak, namun kini juga menjadi titik rawan digital. Lebih dari 500 kabel bawah laut membawa lebih dari 95% lalu lintas data internasional, dan sebagian besar melintasi jalur sempit seperti Selat Hormuz, Laut Merah, dan Selat Bab el-Mandeb. Konsentrasi infrastruktur ini menciptakan titik kegagalan tunggal yang berbahaya.
Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa kabel-kabel di selat tersebut merupakan titik lemah bagi perekonomian Timur Tengah. Usulan pungutan terbaru ini dipandang sebagai upaya Tehran untuk memanfaatkan posisi geografisnya sebagai alat tawar geopolitik. Namun, langkah serupa juga meningkatkan risiko sabotase atau kerusakan yang dapat melumpuhkan konektivitas antar benua.
Dampak dari gangguan kabel bawah laut tidak terbatas pada melambatnya internet. Sektor keuangan global yang bergantung pada transmisi data berkecepatan tinggi untuk perdagangan frekuensi tinggi, sistem pembayaran, dan transaksi perbankan internasional akan terpukul keras. Bahkan gangguan singkat dapat memicu volatilitas pasar dan ketidakpastian investor. Jika kerusakan kabel terjadi bersamaan dengan konflik di jalur perdagangan utama, efeknya akan meluas ke asuransi, pelayaran, dan rantai pasok energi.
Dari sisi militer, kabel bawah laut menjadi tulang punggung komunikasi jarak jauh, koordinasi real-time, dan operasi drone. Kerusakan pada jaringan ini dapat mengurangi efektivitas pasukan, menghambat koordinasi dengan sekutu, dan meningkatkan risiko kesalahan perhitungan. Sifat sabotase kabel yang ambiguโsulit diidentifikasi pelakunya dan berada di area abu-abu hukumโberpotensi memicu eskalasi konflik yang tidak terduga.
Konflik AS-Iran sendiri telah menunda pembangunan kabel bawah laut baru di kawasan tersebut. Hal ini menegaskan bahwa fondasi fisik dunia digital, yang sering dianggap abstrak, sesungguhnya rentan dan menjadi ajang persaingan geopolitik. Setiap tindakan sabotase yang disengaja tidak hanya akan berdampak lokal, melainkan mengguncang sistem komunikasi, ekonomi, dan keamanan global selama bertahun-tahun.


