Dokumen Rahasia Terungkap: Drama di Balik Pemisahan Singapura dari Malaysia 1965
Baca dalam 60 detik
- Arsip yang baru dideklasifikasi mengungkap negosiasi rahasia antara pemimpin Malaysia dan Singapura selama 40 hari menjelang pemisahan.
- Peran Kwa Geok Choo, istri Lee Kuan Yew, sebagai penyusun dokumen hukum dan pengalih perhatian publik menjadi kunci keberhasilan operasi senyap ini.
- Kekhawatiran akan pasokan air dari Johor mendorong Lee Kuan Yew memastikan perjanjian air dimasukkan dalam dokumen pemisahan.

Pada 9 Agustus 1965, Singapura resmi memisahkan diri dari Malaysia setelah melalui proses yang penuh ketegangan dan kerahasiaan tingkat tinggi. Berdasarkan dokumen dan rekaman audio yang baru dideklasifikasi dalam pameran "The Albatross File: Singapore's Independence Declassified" di Perpustakaan Nasional Singapura, terungkap bagaimana para tokoh kunci di kedua sisi—termasuk Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman, Wakil Perdana Menteri Tun Razak, serta pendiri Singapura Lee Kuan Yew dan Goh Keng Swee—menjalani 40 hari penuh intrik sebelum keputusan bersejarah itu diambil.
Ketegangan antara Partai Aksi Rakyat (PAP) dan Partai Aliansi pimpinan Tunku telah memuncak sejak pembentukan Malaysia pada 1963. Kerusuhan komunal, komentar politik yang memanas, serta meningkatnya popularitas PAP di Semenanjung Malaya membuat Tunku khawatir bahwa Singapura akan menjadi "gangren" yang merusak kesatuan Malaysia. Dalam suratnya kepada Tun Razak pada 1 Juli 1965, ia menulis, "Pada akhirnya, saya khawatir kita tidak punya pilihan selain memotong Singapura dari Malaysia untuk menyelamatkan bagian tubuh lainnya." Keputusan ini kemudian direspons oleh Goh Keng Swee yang sudah merasa frustrasi dengan masa depan Malaysia. "Saya sudah muak dengan Malaysia. Saya hanya ingin keluar," ujarnya dalam rekaman yang diputar di pameran.
Lee Kuan Yew awalnya tidak sepenuhnya mendukung pemisahan total; ia lebih menginginkan federasi yang lebih longgar. Namun, setelah melihat ketidakmungkinan mempertahankan Malaysia, ia menginstruksikan Menteri Hukum Eddie Barker untuk menyusun amandemen konstitusi yang memungkinkan pemisahan. Barker juga diminta menyusun proklamasi kemerdekaan. Namun, Lee tidak puas dengan draf awal, terutama karena perjanjian pasokan air dengan Johor belum dimasukkan. "Jika mereka mengingkari perjanjian air, kita akan dalam masalah besar—kita tidak akan punya air minum," kata Lee dalam rekaman. Ia kemudian meminta istrinya, Kwa Geok Choo, seorang pengacara yang mahir dalam penyusunan dokumen, untuk meninjau naskah tersebut. Kwa Geok Choo fokus mengidentifikasi ambiguitas yang bisa menimbulkan sengketa di kemudian hari. "Tugas saya adalah melihat apakah ada kalimat yang maknanya tidak jelas, yang bisa ditafsirkan berbeda oleh pihak lain," jelasnya dalam wawancara sejarah lisan.
Operasi pemisahan dilakukan dengan kerahasiaan tinggi untuk menghindari campur tangan Inggris. Komisaris Tinggi Inggris saat itu, Antony Head, dianggap cukup kuat untuk menggagalkan rencana jika mengetahuinya. Untuk mengelabui pengintaian, Lee tetap menjalani liburan keluarga di Cameron Highlands pada awal Agustus 1965. Namun, di tengah liburan, ia diam-diam menyelinap ke Kuala Lumpur untuk bertemu Tun Razak dan menyelesaikan dokumen. Kwa Geok Choo bertugas mengurus anak-anak dan menjawab pertanyaan tentang keberadaan suaminya dengan mengatakan ia sedang bermain golf. "Jika anak saya berkata 'Papa tidak ada di sini', itu akan menjadi masalah," kenangnya. "Saya ada di sana sebagai kamuflase."
Setelah dokumen final ditandatangani, Lee mengucapkan terima kasih kepada Barker dengan berkata, "Kita berhasil melakukan kudeta tanpa darah." Namun, momen itu tetap berat baginya. Dalam konferensi pers pada 9 Agustus 1965, Lee mengaku bahwa itu adalah "konferensi pers paling menyakitkan" dalam hidupnya karena harus mengakui kegagalan perjuangan selama 15 tahun untuk mewujudkan Malaysia. Ia juga merasa telah mengecewakan banyak pendukung di Semenanjung Malaya, Sabah, dan Sarawak. Kwa Geok Choo menggambarkan kondisi suaminya setelah konferensi pers: "Itulah saat terdekat saya melihatnya mengalami gangguan saraf. Dia sangat, sangat terpukul."
Pameran "The Albatross File" yang dibuka pada 8 Desember 2025 ini memberikan perspektif baru tentang peristiwa yang membentuk dua negara. Lebih dari sekadar catatan sejarah, arsip ini menunjukkan betapa rumitnya diplomasi di balik layar dan bagaimana keputusan yang tampaknya tiba-tiba sebenarnya telah direncanakan secara matang dalam kerahasiaan penuh. Warisan pemisahan ini masih terasa hingga kini, terutama dalam hubungan bilateral yang unik antara Singapura dan Malaysia.


