Misteri 'Jalan Bata Kuning' di Dasar Samudra Pasifik: Antara Mitos Atlantis dan Proses Vulkanik
Baca dalam 60 detik
- Formasi batuan menyerupai jalan bata kuning ditemukan di kedalaman 3.000 meter di Samudra Pasifik oleh kapal eksplorasi E/V Nautilus, memicu spekulasi publik tentang peradaban kuno.
- Para ilmuwan memastikan fenomena ini murni geologis, akibat pendinginan lava yang menciptakan retakan 90 derajat simetris, bukan buatan manusia.
- Penemuan ini menyoroti betapa minimnya eksplorasi laut dalam global, dengan baru 26% dasar laut terpetakan, dan menjadi pengingat bagi Indonesia untuk mengintensifkan riset kelautan.

Tim peneliti dari kapal eksplorasi E/V Nautilus menemukan formasi batuan unik di dasar Samudra Pasifik, tepatnya di kedalaman lebih dari 3.000 meter. Struktur yang menyerupai jalan berbata kuning dengan pola simetris ini sontak memicu perdebatan publik, mulai dari dugaan peninggalan Atlantis hingga fenomena alam biasa. Rekaman video yang dirilis pada April 2022 menunjukkan reaksi kagum para kru, dengan salah satu anggota berteriak, “Ini jalan menuju Atlantis!”
Meski tampak seperti buatan manusia, sains memberikan penjelasan yang lebih membumi. Menurut tim Ocean Exploration Trust, formasi tersebut adalah hasil dari aktivitas vulkanik bawah laut. Batuan basal yang terbentuk jutaan tahun lalu mengalami siklus pemanasan dan pendinginan berulang akibat letusan, sehingga menciptakan retakan dengan sudut 90 derajat yang hampir sempurna. “Retakan ini mirip dengan kerak roti yang retak saat dipanggang, tetapi dalam skala raksasa dan selama ribuan tahun,” jelas para ahli.
Lokasi penemuan berada di Papahānaumokuākea Marine National Monument (PMNM), kawasan konservasi laut terbesar di dunia seluas 1,5 juta km²—hampir tiga kali lipat luas Pulau Kalimantan. Meski kawasan ini telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2010, baru sekitar 3 persen dari dasar lautnya yang berhasil dieksplorasi. Artinya, 97 persen sisanya masih menyimpan potensi kejutan geologis dan biologis yang belum terungkap.
Fenomena serupa sebenarnya pernah ditemukan di Islandia, berupa hyaloclastite ridges yang terbentuk dari letusan subglasial. Namun, formasi di Hawaii ini jauh lebih simetris, sehingga lebih mudah memicu imajinasi publik. Tim Nautilus menegaskan bahwa “jalan bata kuning” ini adalah contoh geologi vulkanik kuno yang aktif, bukan artefak peradaban hilang.
Penemuan ini menjadi refleksi penting bagi Indonesia, negara kepulauan dengan laut dalam yang sangat ekstrem. Palung Jawa, misalnya, memiliki kedalaman lebih dari 7.000 meter—dua kali lipat lokasi penemuan ini. Sayangnya, eksplorasi laut dalam Indonesia masih sangat terbatas. Ekspedisi Widya Nusantara oleh BRIN (saat itu LIPI) pada 2018–2019 di Laut Banda merupakan salah satu langkah awal, tetapi masih jauh dari memadai.
Ke depan, penemuan seperti ini diharapkan dapat mendorong peningkatan investasi riset kelautan, baik dari segi pendanaan maupun teknologi. Laut dalam bukan hanya menyimpan misteri geologi, tetapi juga potensi sumber daya hayati dan mineral yang belum tergarap. Bagi Indonesia, memahami laut dalam sama artinya dengan memahami masa depan bangsa.


