Fenomena 'Cycle Syncing': Tren Kesehatan yang Kurang Bukti Ilmiah
Baca dalam 60 detik
- Tren 'cycle syncing' yang menyesuaikan pola makan dan olahraga dengan fase menstruasi kian populer di media sosial, namun klaimnya sering bertentangan.
- Tinjauan sistematis menunjukkan tidak ada bukti kuat bahwa olahraga pada fase tertentu meningkatkan performa atau mengurangi cedera, meski atlet perempuan merasa kurang percaya diri di fase luteal akhir.
- Penelitian tentang hubungan nutrisi dan siklus menstruasi masih terbatas; satu studi 2024 menemukan peningkatan nafsu makan di fase luteal, tetapi belum ada rekomendasi diet definitif.

Fenomena 'cycle syncing' tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Tren kesehatan ini mengajak perempuan untuk menyesuaikan pola makan dan jenis olahraga berdasarkan fase siklus menstruasi. Misalnya, pada fase awal menstruasi disarankan melakukan yoga atau mengonsumsi makanan fermentasi. Namun, di balik popularitasnya, klaim yang diusung para influencer seringkali tidak didukung bukti ilmiah yang memadai.
Siklus menstruasi sendiri terbagi menjadi tiga fase utama: folikuler (pertumbuhan folikel), ovulasi (pelepasan sel telur), dan luteal (penebalan dinding rahim). Fluktuasi hormon selama siklus dapat memicu gejala seperti kelelahan, kram, kembung, dan perubahan suasana hati. Pendukung cycle syncing meyakini bahwa penyesuaian gaya hidup dapat membantu mengelola gejala tersebut dan memenuhi kebutuhan energi tubuh yang berubah.
Sayangnya, rekomendasi yang beredar seringkali tidak konsisten. Ada yang menyarankan konsumsi sayuran segar dan makanan fermentasi pada fase folikuler, sementara yang lain merekomendasikan protein rendah lemak dan biji-bijian utuh. Begitu pula dengan olahraga; beberapa menekankan latihan kardio intensitas tinggi, namun ada pula yang menganggap berenang atau bersepeda lebih tepat.
Penelitian menunjukkan bahwa atlet perempuan cenderung merasa kurang termotivasi atau percaya diri saat beraktivitas di fase luteal akhir. Mereka juga menilai performa menurun pada awal dan akhir menstruasi, kemungkinan karena gejala seperti kram dan nyeri punggung membuat olahraga terasa lebih berat. Meski demikian, latihan kekuatan dan relaksasi terbukti membantu meredakan nyeri haid.
Dari sisi nutrisi, bukti bahkan lebih terbatas. Sebuah studi tahun 2024 mengindikasikan bahwa perempuan mungkin merasa lebih lapar atau makan lebih banyak selama fase luteal, diduga karena tubuh membutuhkan energi ekstra untuk mempersiapkan kehamilan. Namun, tinjauan sistematis belum menemukan kesimpulan kuat bahwa perubahan pola makan dapat mengurangi gejala seperti kram, kembung, atau kelelahan.
Para peneliti mengakui masih banyak celah dalam studi cycle syncing, termasuk mekanisme kerja dan manfaat pastinya. Untuk saat ini, pendekatan terbaik adalah mendengarkan sinyal tubuh dan bersikap fleksibel. Jika tidur terganggu karena kram malam, tidak perlu memaksakan latihan berat keesokan harinya; berjalan kaki sudah cukup. Demikian pula, jika merasa lapar ekstra di fase luteal, menambah porsi makan secukupnya bukanlah masalah.
Kesimpulannya, efektivitas cycle syncing masih belum terbukti secara ilmiah. Namun, penyesuaian kecil dalam gaya hidup dapat membantu membuat masa menstruasi lebih nyaman. Yang terpenting adalah setiap perempuan memahami kondisi tubuhnya sendiri dan tidak ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.


