Dataland, Museum AI Pertama di Dunia, Warisan Kolonialisme di Balik Fasad Futuristik
Baca dalam 60 detik
- Dataland, museum seni AI pertama di dunia, akan dibuka di Los Angeles dengan konsep imersif berbasis data alam.
- Proyek ini menggunakan dataset besar dari mitra museum yang koleksinya berasal dari era kolonial, namun tidak transparan mengenai asal-usulnya.
- Kritik muncul karena Dataland dianggap mengabaikan hak data dan warisan budaya masyarakat adat, mirip dengan praktik museum abad ke-19.

Los Angeles akan menjadi rumah bagi museum seni kecerdasan buatan (AI) pertama di dunia, Dataland, yang dijadwalkan beroperasi bulan depan di gedung seluas 35.000 kaki persegi. Dikembangkan oleh seniman Refik Anadol dan Efsun Erkiliรง, museum ini mengusung konsep "living museum" yang menyajikan pengalaman audiovisual imersif berbasis jutaan gambar, suara, dan aroma dari alam.
Meski mengklaim sebagai terobosan baru dalam dunia museum, Dataland sejatinya memiliki akar sejarah yang dalam. Para pendirinya, menurut analisis, masih terikat dengan tradisi pameran besar abad ke-19 yang mengedepankan tontonan publik dan komersialisasi. Contohnya adalah Crystal Palace di London (1851) yang memamerkan lebih dari 100.000 objek dari seluruh dunia, termasuk berlian terbesar yang diambil dari India untuk Ratu Victoria. Pameran semacam itu tidak hanya menampilkan kemajuan teknologi, tetapi juga memperkuat hierarki kolonial melalui "kebun binatang manusia".
Dataland mengandalkan Large Nature Model (LNM), sebuah model sumber terbuka yang dilatih dengan setengah miliar gambar dari mitra seperti Smithsonian dan Natural History Museum London. Data tersebut dilengkapi dengan rekaman dari 16 hutan hujan di berbagai negara. Namun, situs web Dataland tidak memberikan informasi asal-usul koleksi mitranya, yang kemungkinan besar mencakup spesimen abad ke-19 yang dikumpulkan melalui praktik kolonial yang eksploitatif.
Sejarawan mencatat bahwa pengumpulan spesimen alam pada abad ke-19 adalah industri yang menguntungkan, terkait erat dengan imperialisme Eropa dan eksploitasi ilmiah. Banyak museum kini berupaya memperbaiki kerusakan akibat praktik tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Natural Sciences Collections Association Inggris: "kami harus proaktif dalam menceritakan kebenaran yang tersembunyi, betapa pun sulitnya, tentang bagaimana kami mendapatkan koleksi kami."
Kritik terhadap Dataland juga menyoroti kurangnya transparansi dalam penggunaan data historis. Hal ini mengingatkan pada tuduhan bahwa seni AI sering kali tidak meminta persetujuan atau memberikan kompensasi kepada pencipta asli. Dataland, meskipun mengusung masa depan, tidak dapat melepaskan diri dari warisan sejarah museum yang sarat dengan ketidakadilan kolonial.
Ke depan, Dataland perlu menunjukkan komitmen nyata terhadap etika data dan hak masyarakat adat, bukan sekadar klaim permukaan. Jika tidak, museum ini hanya akan menjadi versi modern dari pameran kolonial abad ke-19 yang dibungkus teknologi canggih.


