Polusi Suara Kapal Memaksa Paus Pilot Berteriak di Selat Gibraltar
Baca dalam 60 detik
- Populasi kritis paus pilot sirip panjang di Selat Gibraltar meningkatkan volume panggilan mereka hingga setengah dari kebisingan latar akibat lalu lintas kapal.
- Penelitian dari Aarhus University menunjukkan mamalia laut ini beradaptasi dengan 'berteriak' di batas atas rentang suara mereka untuk tetap berkomunikasi.
- Temuan ini menambah bukti bahwa polusi suara antropogenik mengancam kehidupan laut, mendorong perlunya kapal lebih senyap dan pengalihan rute.

Selat Gibraltar, jalur laut tersibuk yang menghubungkan Mediterania dan Atlantik, menjadi rumah bagi populasi kritis paus pilot sirip panjang (Globicephala melas). Namun, deru kapal kargo yang terus-menerus memaksa hewan ini untuk 'berteriak' agar dapat saling mendengar. Sebuah studi terbaru yang dipimpin Milou Hegeman dari Aarhus University, Denmark, dan diterbitkan di Journal of Experimental Biology mengungkapkan bahwa paus-paus tersebut meningkatkan volume panggilan mereka secara signifikan saat kebisingan latar meningkat.
Paus pilot, meskipun namanya 'paus', sebenarnya termasuk lumba-lumba besar yang hidup di laut dalam. Mereka menggunakan suara frekuensi tinggi—klik dan decitan—untuk berkomunikasi dalam kelompok. Namun, suara-suara ini hanya merambat dalam jarak pendek, sehingga gangguan dari kapal sangat berdampak. Tim peneliti memasang tag kecil pada 23 individu antara 2012 dan 2015, merekam lebih dari 84 jam data suara dan pergerakan. Hasilnya, selama periode kebisingan kapal, jumlah panggilan paus menurun drastis, dan panggilan yang ada menjadi lebih keras—setara dengan setengah peningkatan kebisingan latar.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Gibraltar. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa kebisingan kapal meningkatkan hormon stres pada paus sikat, sementara penelitian 2024 menemukan penyu laut di Galapagos menjadi lebih waspada akibat suara kapal. Sonar militer juga terbukti mengacaukan pola menyelam dan makan paus, bahkan dapat menyebabkan terdamparnya hewan-hewan tersebut.
Untungnya, upaya mitigasi mulai digalakkan, mulai dari desain kapal yang lebih senyap, pengalihan rute pelayaran, hingga pelatihan operator kapal untuk mengurangi kebisingan. Studi ini menjadi pengingat bahwa polusi suara bawah laut sama berbahayanya dengan polusi plastik. Seperti kata Sir David Attenborough, 'Jika kita menyelamatkan laut, kita menyelamatkan dunia kita.' Kesadaran akan dampak yang tak terlihat—namun terdengar—ini menjadi kunci perlindungan ekosistem laut di masa depan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7240734/original/036437200_1780025633-IMG_0164.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7244269/original/047100000_1780030180-IMG_0582.jpeg)
