Eksistensi Empu Kereta Kuda di Yogyakarta Terancam, Regenerasi Mandek dan Ekonomi Tak Menjanjikan
Baca dalam 60 detik
- Paidi, generasi ketiga empu kereta kuda di Bantul, mengaku tidak memiliki penerus karena seluruh anaknya perempuan dan profesi ini dianggap kurang menguntungkan secara ekonomi.
- Selain faktor keturunan, minimnya minat anak muda terhadap pekerjaan ini disebabkan oleh ketidakpastian pendapatan, sehingga bengkel hanya dijadikan usaha sampingan.
- Pemerintah daerah berupaya melestarikan bengkel kereta kuda melalui pembentukan komunitas dan integrasi dengan sektor pariwisata, namun konsep pemberdayaan ekonomi masih terkendala.

Nasib perajin kereta kuda di Yogyakarta semakin memprihatinkan. Regenerasi yang tersendat dan kondisi ekonomi yang lemah membuat profesi ini terancam punah. Paidi (67), generasi ketiga Empu Kereta Kuda dari Padukuhan Jetis, Bantul, mengaku tidak memiliki pewaris yang bisa melanjutkan usaha bengkel keluarganya.
Paidi bersama keempat saudaranya mengelola Bengkel Kereta Pandawa Lima sejak kecil. Namun, kini hanya empat orang yang tersisa setelah satu saudaranya meninggal. Menurut Paidi, pekerjaan memperbaiki kereta kuda dianggap sebagai pekerjaan laki-laki, sementara sebagian besar keturunan mereka adalah perempuan. "Saya punya anak dua, perempuan semua. Adik-adik saya juga anaknya perempuan. Hanya satu yang laki-laki, tapi belum tahu apakah berminat," ujarnya.
Selain masalah gender, faktor ekonomi juga menjadi penghambat utama. Paidi mengakui bahwa penghasilan dari bengkel tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga ia mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber pendapatan utama. "Usaha ini hanya sampingan sambil bertani, karena tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari," katanya. Meski demikian, ia tetap bertahan karena dua alasan: menjaga amanah keluarga dan statusnya sebagai abdi dalem Keraton Yogyakarta.
Sumardi (63), adik Paidi, menegaskan bahwa regenerasi benar-benar macet. Semua anaknya perempuan, sementara para pengrajin yang tersisa sudah berusia lanjut. Dukuh Jetis, Eka Wulanjari, menilai bahwa persoalan regenerasi tidak hanya soal keturunan, tetapi juga daya tarik ekonomi. "Anak muda sekarang butuh penghasilan yang pasti. Profesi ini tidak bisa menjamin itu," ujarnya. Eka mengaku sudah berupaya berdialog dengan pemerintah daerah agar bengkel ini tetap lestari, misalnya dengan dijadikan museum atau lokasi edukasi.
Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Yanatun Yunadiana, menyatakan bahwa kereta kuda (andong) telah ditetapkan sebagai warisan budaya. Pihaknya akan membentuk komunitas dan berkoordinasi dengan sektor UMKM serta pariwisata untuk meningkatkan kesejahteraan pelaku budaya. "Harapannya, pelestarian budaya juga bisa menyejahterakan mereka," ucapnya.
Ke depan, diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk menciptakan model bisnis yang berkelanjutan bagi para empu kereta kuda. Tanpa intervensi yang tepat, tradisi ini hanya akan menjadi kenangan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7244269/original/047100000_1780030180-IMG_0582.jpeg)


