Polisi Australia Tangkap Dua Tersangka Terkait Pelarian Pembunuh Dua Polisi
Baca dalam 60 detik
- Dua pria berusia 48 dan 45 tahun ditangkap di Victoria atas dugaan membantu pelarian Dezi Freeman, yang membunuh dua polisi sebelum tewas ditembak.
- Freeman, penganut paham 'sovereign citizen', melarikan diri selama tujuh bulan sebelum ditemukan di peternakan terpencil dan tewas dalam baku tembak.
- Investigasi masih berlangsung, sementara pengadilan koroner akan menggelar dua inkuiri terpisah terkait kematian para korban dan pelaku.

Kepolisian Australia mengumumkan penangkapan dua individu yang diduga terlibat dalam jaringan pendukung Dezi Freeman, pria bersenjata yang tewas dalam baku tembak dengan aparat pada Maret lalu setelah menjalani pelarian selama tujuh bulan. Kedua tersangka, masing-masing berusia 48 dan 45 tahun, diamankan di lokasi terpisah di negara bagian Victoria pada Selasa (25/6) dan saat ini tengah menjalani pemeriksaan intensif.
Freeman, yang juga dikenal dengan nama asli Desmond Filby, merupakan seorang penganut gerakan 'sovereign citizen' yang menolak otoritas hukum. Pada Agustus tahun lalu, ia menembak mati dua perwira senior polisi—Neal Thompson dan Vadim de Waart—saat mereka menjalankan surat perintah penggeledahan di kediamannya di Porepunkah, Victoria. Peristiwa itu dipicu oleh tuduhan pelecehan seksual terhadap anak dan kepemilikan materi eksploitasi anak yang akan dijadikan dasar penangkapan.
Dalam sidang di pengadilan koroner Victoria pada Senin (24/6), terungkap bahwa Freeman menolak keluar dari bus yang telah dimodifikasi menjadi tempat tinggalnya. Ia menembak Thompson saat perwira itu mencoba masuk melalui jendela, lalu menembak de Waart saat petugas lainnya mulai mundur. Freeman kemudian mengambil senjata de Waart dan kembali menembak Thompson. Pengadilan akan menggelar dua inkuiri terpisah: satu untuk kematian kedua polisi, dan satu lagi untuk kematian Freeman.
Polisi sebelumnya menduga Freeman mendapatkan bantuan untuk melarikan diri dari Porepunkah, dan penangkapan dua pria ini mengonfirmasi adanya jaringan pendukung. Namun, pihak kepolisian belum memberikan rincian lebih lanjut karena investigasi masih berlangsung. Kasus ini menyoroti tantangan penegakan hukum dalam menghadapi kelompok anti-pemerintah yang kerap menyembunyikan pelaku kejahatan serius.
Ke depannya, kasus ini diperkirakan akan memicu diskusi lebih luas mengenai pengawasan terhadap gerakan ekstremis domestik di Australia, terutama yang menolak legitimasi hukum dan seringkali terlibat dalam kekerasan bersenjata. Inkuiri korender diharapkan dapat memberikan gambaran lengkap mengenai kronologi peristiwa serta langkah-langkah pencegahan yang diperlukan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7183244/original/002499300_1779979290-73e29194-e437-4c19-b7f9-036854c92468.jpg)


