Ancaman El Nino Godzilla dan IOD Positif: Indonesia Siaga Hadapi Karhutla Ekstrem 2026
Baca dalam 60 detik
- BMKG memprediksi fenomena El Nino Godzilla yang diproyeksikan terjadi bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) pada 2026, berpotensi memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan secara signifikan.
- Data historis menunjukkan Indonesia pernah kehilangan lebih dari 9 juta hektar hutan dan lahan akibat karhutla pada 1997, sementara peristiwa serupa pada 2015 dan 2019 masing-masing menghanguskan sekitar 2 juta dan 1,6 juta hektar, menegaskan pola bencana tahunan yang mengkhawatirkan.
- BRIN mengingatkan bahwa kombinasi El Nino dan IOD positif dapat memicu kekeringan ekstrem, sehingga pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat harus segera menyusun strategi mitigasi untuk mencegah kerugian ekologis dan ekonomis yang lebih besar.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini terkait potensi fenomena El Nino Godzilla yang diprediksi melanda Indonesia pada tahun ini. Fenomena iklim ekstrem ini diperkirakan akan berlangsung bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD), sebuah kombinasi yang jarang terjadi dan dapat memperparah kondisi kekeringan di berbagai wilayah Nusantara. Proyeksi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa situasi ini berpotensi memperpanjang musim kemarau secara signifikan, meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sudah menjadi momok tahunan.
Sejarah mencatat bahwa Indonesia telah beberapa kali mengalami karhutla dengan skala masif. Pada 1997, lebih dari 9 juta hektar hutan dan lahan hangus terbakar, menjadikannya salah satu bencana lingkungan terbesar di dunia. Peristiwa serupa terulang pada 2015 dengan luasan sekitar 2 juta hektar, dan pada 2019 mencapai 1,6 juta hektar. Angka-angka ini menunjukkan bahwa meskipun upaya pencegahan terus dilakukan, karhutla tetap menjadi ancaman berulang yang membutuhkan respons lebih sistemik.
Para ahli mengingatkan bahwa kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman ini. Pemerintah daerah, perusahaan perkebunan dan kehutanan, serta masyarakat di sekitar kawasan rawan karhutla diminta untuk segera mengaktifkan sistem peringatan dini dan memperkuat infrastruktur pengendalian api. Langkah-langkah seperti pembuatan kanal bloking di lahan gambut, patroli terpadu, dan penyediaan sumber air alternatif harus digencarkan sebelum puncak musim kemarau tiba.
Dampak dari karhutla tidak hanya terbatas pada kerusakan ekosistem, tetapi juga merugikan sektor ekonomi dan kesehatan publik. Kabut asap yang dihasilkan dapat mengganggu transportasi, menurunkan kualitas udara, dan memicu penyakit pernapasan akut. Dalam konteks investasi, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sektor berbasis lahan menghadapi risiko reputasi dan sanksi regulasi jika terbukti lalai dalam pencegahan kebakaran.
Ke depan, kolaborasi multipihak menjadi keniscayaan. Pemerintah pusat perlu memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, sementara sektor swasta harus mengadopsi praktik pengelolaan lahan tanpa bakar secara konsisten. Masyarakat juga perlu diedukasi tentang bahaya membuka lahan dengan api, terutama di musim kemarau. Tanpa langkah preventif yang terpadu, siklus karhutla tahunan akan terus berulang dengan konsekuensi yang semakin berat.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7183244/original/002499300_1779979290-73e29194-e437-4c19-b7f9-036854c92468.jpg)


