Klub Eksklusif Delhi Terancam Tutup: Antara Warisan Sejarah dan Tekanan Modernisasi
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah India memerintahkan Gymkhana Club, klub elit berusia 113 tahun di Delhi, untuk mengosongkan lahannya pada 5 Juni demi kepentingan pertahanan dan keamanan publik.
- Langkah ini memicu perdebatan sengit antara pelestarian warisan budaya dan kritik terhadap privilese eksklusif yang selama ini melekat pada institusi tersebut.
- Di tengah gugatan hukum dari anggota, keputusan ini menyoroti perubahan sosial-politik di India di bawah kepemimpinan Narendra Modi yang kerap menargetkan simbol-simbol kekuasaan lama.

Pemerintah federal India melalui Kementerian Pertahanan telah mengeluarkan perintah evakuasi terhadap Gymkhana Club, salah satu klub paling bergengsi di Delhi yang berdiri sejak era kolonial. Lahan seluas 27,3 hektare di kawasan Safdarjung Road itu diminta dikosongkan paling lambat 5 Juni mendatang dengan alasan kebutuhan infrastruktur pertahanan dan keamanan publik yang vital. Langkah ini langsung menuai respons beragam, mulai dari dukungan hingga perlawanan hukum dari para anggota yang mengajukan gugatan ke pengadilan.
Klub yang didirikan pada 1913 dengan nama Imperial Delhi Gymkhana Club ini menyimpan jejak panjang sejarah India modern. Arsitektur bangunannya dirancang oleh Robert Tor Russell, arsitek yang juga mendesain Connaught Place, dengan ciri khas beranda luas, langit-langit tinggi, dan fasad pucat yang menyatu dengan pepohonan. Di dalamnya, tradisi seperti pelayan berseragam, minuman sore di beranda, dan para pensiunan jenderal yang duduk di bawah pohon neem masih terjaga hingga kini. Namun, di balik kemegahannya, klub ini juga identik dengan privilese warisan yang kerap dikritik sebagai simbol ketimpangan sosial.
Proses keanggotaan yang ketat—harus diusulkan dan didukung oleh anggota lain, lalu disetujui komite—telah lama menjadi pintu gerbang bagi kalangan birokrat senior, perwira militer, dan keluarga bisnis lama. Daftar tunggu yang bisa mencapai puluhan tahun menjadi legenda urban, sementara para pengkritik menilai klub ini memperkuat jaringan kekuasaan berbasis koneksi pribadi. Seorang pensiunan perwira polisi India mengaku butuh 18 tahun untuk menjadi anggota, namun setelah itu ia jarang berkunjung karena kehilangan minat.
Ketegangan antara pemerintah dan klub sebenarnya sudah terlihat sejak 2020, ketika Kementerian Urusan Korporat mengajukan kasus ke pengadilan tribunal dengan tuduhan pelanggaran aturan keanggotaan dan ketidakberesan keuangan. Dua tahun kemudian, tribunal membubarkan komite pengurus terpilih dan menunjuk administrator pemerintah—langkah yang memicu protes dari sejumlah anggota. Kini, perintah evakuasi menjadi puncak dari rangkaian tekanan yang menurut pengamat bagian dari agenda Modi untuk mengurangi pengaruh elit lama yang berbahasa Inggris.
Tokoh-tokoh publik terbelah menyikapi isu ini. Kiran Bedi, mantan pejabat polisi senior dan mantan kandidat kepala daerah dari BJP, menyebut evakuasi sebagai "tragis dan disayangkan" karena klub merupakan bagian dari warisan olahraga dan institusi Delhi. Sejarawan Swapna Liddle mengakui asal-usul elitis klub, namun berharap pemerintah mereformasi daripada menutupnya. "Alih-alih mengatakan 'biarkan tidak ada', Anda bisa bertanya bagaimana mengubahnya agar bermakna bagi lebih banyak orang," ujarnya. Di sisi lain, jurnalis Prabhu Chawla mengkritik klub semacam itu sebagai institusi eksklusif yang beroperasi di atas tanah publik bersubsidi.
Juru bicara BJP, RP Singh, membantah tuduhan bahwa pemerintah secara tidak adil menargetkan klub. "Ini properti yang disewakan pemerintah. Semua terjadi sesuai aturan dan hukum yang berlaku," tegasnya. Namun, di luar argumen hukum dan politik, sentimen nostalgia justru mengemuka di kalangan warga Delhi. Banyak yang mengingat klub sebagai salah satu dari sedikit tempat yang tak tersentuh perubahan zaman—menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah seperti pertemuan Gandhi-Irwin yang menghasilkan pakta damai pada 1931, atau perpisahan perwira Inggris dan India saat pembagian tentara pada 1947.
Jika akhirnya klub kehilangan rumahnya, Delhi mungkin masih memiliki klub baru, hotel mewah, dan restoran yang lebih ramai. Namun, seperti diungkapkan seorang jurnalis senior yang bukan anggota, "Ini adalah salah satu struktur di Delhi yang tetap tak tersentuh sementara kota di luarnya berubah total." Kehilangan Gymkhana bukan sekadar penutupan sebuah bangunan, melainkan juga memudarnya fragmen terakhir dari masa lalu Delhi yang masih terasa hidup.



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5701171/original/017326300_1778581567-IMG_3498.jpeg)