Sektor Pertanian Jadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah, Pemerintah Perkuat Produksi dan Ekspor
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah mencatat sektor pertanian berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan produksi pangan dan pengurangan impor.
- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka pasar baru bagi komoditas pertanian dan peternakan, mendorong investasi di daerah.
- Ekspor pertanian 2025 mencapai Rp756,59 triliun, naik Rp166 triliun, sementara impor turun Rp41 triliun, menunjukkan penguatan daya saing domestik.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) merangkap Menteri Pertanian ad interim, Sudaryono, menegaskan bahwa sektor pertanian kini menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini disampaikan dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Jakarta, Senin (25/5/2026). Menurutnya, keberhasilan pemerintah meningkatkan produksi pangan dan menekan impor komoditas strategis telah menciptakan dampak langsung terhadap perputaran uang di tingkat desa.
Sudaryono menjelaskan bahwa kebijakan substitusi impor telah mengalihkan belanja negara dari produk luar negeri ke petani lokal. โDulu uang kita dipakai memperkaya negara lain lewat impor. Sekarang uang yang sama berputar di petani kita sendiri,โ ujarnya. Ia mencontohkan penghentian impor beras konsumsi medium pada 2025 serta swasembada jagung dan gula konsumsi sebagai bukti nyata terciptanya lapangan kerja baru di sektor pertanian.
Peningkatan produksi pangan nasional didorong melalui program pompanisasi, pipanisasi, perbaikan irigasi, optimalisasi lahan rawa, serta pemberian benih unggul dan alat mesin pertanian. Sudaryono menekankan bahwa sektor pertanian memiliki efek ekonomi luas karena mampu menyerap tenaga kerja dan membuka peluang usaha baru di desa. โSektor pertanian itu bisa menjangkau semua lapisan masyarakat desa. Ketika produksi naik, maka usaha tumbuh, tenaga kerja terserap, dan ekonomi lokal bergerak,โ jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sudaryono juga menyoroti peran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pasar baru bagi komoditas pertanian dan peternakan. Program ini mendorong investasi peternakan sapi perah di berbagai daerah seiring meningkatnya kebutuhan susu dalam negeri. Pemerintah terus mengembangkan komoditas strategis seperti susu, daging sapi, bawang putih, dan kedelai untuk mengurangi ketergantungan impor secara bertahap. โMBG ini menciptakan permintaan besar terhadap susu, sayur, telur, ayam, dan komoditas lainnya. Jadi bukan hanya anak-anak yang mendapat gizi, tapi ekonomi pertanian di daerah juga ikut bergerak,โ terangnya.
Selain memenuhi kebutuhan domestik, penguatan sektor pertanian juga berdampak pada peningkatan ekspor. Sudaryono menambahkan bahwa penguatan dolar AS justru menjadi peluang bagi komoditas ekspor pertanian seperti kopi, karet, kelapa, cengkeh, gula aren, dan serabut kelapa yang diperdagangkan dalam dolar. โKalau ekspor kita naik, petani juga bisa menikmati nilai tambah karena dibayar dolar. Ini peluang bagi daerah untuk memperkuat komoditas ekspor pertanian,โ imbuhnya.
Pemerintah juga memperluas cetak sawah baru di luar Jawa sebagai strategi jangka panjang menjaga ketahanan pangan dan membuka pusat ekonomi baru. โCetak sawah bukan hanya soal pangan hari ini, tapi persiapan pangan dan ekonomi Indonesia 50 sampai 100 tahun ke depan,โ tegas Sudaryono. Ia menambahkan bahwa sektor pertanian merupakan salah satu penyumbang terbesar PDB nasional, sehingga pemerintah terus memperkuat dukungan melalui pupuk subsidi, alat mesin pertanian, dan akses pembiayaan murah bagi petani dan peternak.
Dengan produksi yang meningkat, pasar yang jelas, dan ekspor yang besar, Sudaryono optimistis sektor pertanian akan terus menjadi andalan pertumbuhan ekonomi daerah. โKami yakin sektor pertanian sangat menjanjikan. Tinggal bagaimana semua pihak mendukung agar ekonomi desa tumbuh semakin kuat,โ pungkasnya.



