Generasi Muda Lombok Kembali ke Akar: Belajar Pangan Lokal di Sekolah Adat
Baca dalam 60 detik
- Mahasiswa dan siswa SMK di Lombok Utara mengikuti program Lacak Jejak Pangan Lokal untuk mengidentifikasi tanaman adat yang mulai terlupakan.
- Kegiatan ini mengungkap bahwa generasi muda kesulitan mengenali sumber pangan lokal seperti sorgum dan jewawut, yang justru menjadi kunci ketahanan pangan tradisional.
- Sekolah Adat Bayan dan laboratorium hidup Universitas Mataram menjadi motor pengembangan pangan lokal sebagai solusi ketahanan pangan dan pelestarian budaya.

Di perbukitan Lombok Utara yang basah usai hujan, sekelompok pemuda berjalan menyusuri lahan pertanian adat pada akhir Januari lalu. Mereka bukan sekadar bertani, melainkan mengikuti program identifikasi tanaman pangan lokal yang digagas oleh Dewan Kebudayaan Lombok Utara bersama Sekolah Adat Bayan. Kegiatan bertajuk 'Lacak Jejak Pangan Lokal' ini menjadi jembatan bagi generasi Z untuk mengenali warisan pangan nenek moyang yang mulai tergerus modernisasi.
Randika, mahasiswa Universitas Pendidikan Mandalika Mataram, dan rekannya Baiq Chelsea sempat berdebat sengit mengenai nama tanaman yang mereka temui. Keduanya hanya mengingat istilah dalam bahasa Sasak, namun lupa padanan Indonesianya. Mereka pun mengandalkan Google untuk mengidentifikasi daun tanaman, namun hasilnya tetap membingungkan. Situasi serupa dialami siswa SMK Pertanian Bayan yang hanya mengenal beberapa tanaman seperti talas dan singkong karena masih dijual di pasar.
Nelda Hannia dari Dewan Kebudayaan Lombok Utara kemudian mengeluarkan semangkuk biji-bijian dan meminta peserta menebak namanya. Tak satu pun mampu menjawab hingga ia menyebut 'beleleng'—nama lokal sorgum. Menurut Nelda, setidaknya ada enam jenis sorgum yang masih ditanam warga adat di Lombok Utara, terutama di lahan pecatu atau tanah adat yang dikelola untuk ritual.
Raden Dedi dari Sekolah Adat Bayan memandu peserta menyusuri lahan pecatu. Ia menunjukkan barisan tanaman yang bagi generasi Z tampak seperti rumput biasa, namun sebenarnya adalah jewawut, sumber karbohidrat tradisional. Dedi juga memperlihatkan beberapa petak padi dengan varietas berbeda yang sekilas tampak seragam. "Identifikasi ini penting. Kita ingin mengenalkan kembali bahwa nenek moyang kita punya cara bertahan hidup yang sangat cerdas melalui keragaman pangan," ujarnya.
Program ini tidak hanya berhenti di identifikasi. Data tanaman pangan lokal—baik sumber karbohidrat maupun protein nabati—dikumpulkan sebagai bahan pembelajaran. Dengan mengunjungi kebun masyarakat adat, generasi muda dapat melihat langsung varietas beras dan umbi-umbian yang lebih adaptif terhadap lahan kering berpasir, hasil endapan letusan Gunung Samalas. Tanaman seperti uwi, gembili, dan kentang (Dioscorea spp.) menjadi contoh pangan lokal yang tahan banting.
Indriyatno, dosen Kehutanan Universitas Mataram, melangkah lebih jauh. Ia menyulap lahan kosong di tengah Kota Mataram menjadi laboratorium hidup yang penuh dengan tanaman pangan lokal dan herbal. Pada Februari 2024, ia menerbitkan penelitian tentang keanekaragaman umbi Dioscorea di Lombok, mencatat 12 tipe lokal dari empat spesies utama. Penelitian ini mengungkap peran penting umbi-umbian dalam ketahanan pasca-bencana, seperti saat gempa 2018 dan pandemi COVID-19, di mana masyarakat yang memiliki kebun tidak bergantung pada pasokan luar.
"Pangan lokal ini bisa diolah agar bersaing dengan makanan siap saji. Di tangan Indriyatno, pangan lokal naik kelas menembus jurnal ilmiah dan menjadi sajian istimewa di laboratorium hidupnya," demikian kesaksian tim LyndHub yang sempat mencicipi kue berbahan 100% lokal di laboratorium tersebut.
Upaya kolaboratif antara Sekolah Adat Bayan, Dewan Kebudayaan, dan akademisi seperti Indriyatno menunjukkan bahwa pangan lokal bukan sekadar nostalgia, melainkan solusi konkret untuk ketahanan pangan dan pelestarian budaya. Ke depan, diharapkan generasi muda tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga penjaga keanekaragaman hayati yang diwariskan leluhur.


_Tahun_2026_IRFAN_(292)_wmcomp.jpg)
