Pep Guardiola Pamit: Tangis Pecah di Laga Terakhir, Era Keemasan Manchester City Berakhir
Baca dalam 60 detik
- Pep Guardiola mengakhiri 10 tahun masa baktinya di Manchester City dengan kekalahan 1-2 dari Aston Villa, diwarnai tangis perpisahan bersama Bernardo Silva.
- Selama satu dekade, Guardiola mempersembahkan 15 trofi termasuk 6 gelar Premier League dan satu Liga Champions, menorehkan rekor 70,2% kemenangan dari 593 laga.
- Kepergian Guardiola diikuti oleh sejumlah pemain kunci seperti Bernardo Silva dan John Stones, serta staf pelatih, menandai restrukturisasi besar di Etihad Stadium.

Pep Guardiola resmi menutup babak kepelatihannya di Manchester City setelah laga terakhir melawan Aston Villa pada Minggu (25/5) di Etihad Stadium. Meski harus mengakui keunggulan tim tamu dengan skor 1-2, momen emosional justru mendominasi pertandingan tersebut. Pelatih asal Spanyol itu tak mampu menahan air mata saat kapten Bernardo Silva ditarik keluar pada menit ke-59, mendapat penghormatan dari kedua tim.
Guardiola, yang telah memimpin City sejak 2016, meninggalkan warisan luar biasa: 6 gelar Premier League, 1 Liga Champions, 3 Piala FA, dan 5 Piala Liga. Dalam 593 pertandingan, ia mencatat 416 kemenangan (70,2%)—rasio tertinggi bagi manajer dengan minimal 20 laga di Inggris. Tak heran, tribun utara stadion kini resmi berganti nama menjadi 'Pep Guardiola Stand' sebagai bentuk penghormatan abadi.
Suasana haru terasa sejak sebelum kick-off. Ratusan penggemar berbaris di luar stadion untuk menyambut bus tim, sementara spanduk raksasa bertuliskan '10 Years with Pep – Game Changer, History Maker, City Forever' dikibarkan di tribun timur. Manajer Aston Villa, Unai Emery, yang menyebut Guardiola sebagai "satu-satunya jenius" sepak bola, memberikan cinderamata sebelum laga.
Guardiola mengaku tidak menyesali keputusannya untuk pergi. "Hidup terdiri dari periode-periode. Kita telah menjalani periode yang luar biasa. Jika saya masih punya energi, saya akan tetap di sini. Tapi orang baru harus mengambil alih," ujarnya dalam pidato perpisahan yang disambut nyanyian "We've got Guardiola" dari para suporter.
"Banyak kenangan—lupakan gelar, yang terpenting adalah kenangan. Semua orang di sini luar biasa." — Pep Guardiola
Kepergian Guardiola bukan satu-satunya perubahan besar di City. Bernardo Silva dan John Stones akan hengkang setelah kontrak mereka berakhir bulan depan. Silva, yang tampil dalam 460 pertandingan di bawah Guardiola—terbanyak dibanding pemain mana pun dalam karier sang pelatih—mengaku sulit meluapkan perasaannya. "Saya tidak akan pernah merasakan cinta seperti ini lagi. Klub ini akan selalu menjadi keluarga saya," katanya.
Stones pun menyampaikan rasa terima kasihnya: "Ini mimpi yang menjadi kenyataan. Dari lubuk hati saya dan keluarga, terima kasih banyak." Selain itu, mantan kapten Ilkay Gundogan dan kiper Ederson juga hadir untuk memberikan penghormatan terakhir, begitu pula staf setia Guardiola seperti Manel Estiarte, Lorenzo Buenaventura, dan Xabi Mancisidor yang juga akan pergi.
Negosiasi dengan Enzo Maresca sebagai pengganti Guardiola dilaporkan sudah memasuki tahap lanjut. Mantan striker Chris Sutton mengingatkan para penggemar City untuk bersabar, seraya membandingkan situasi ini dengan masa transisi Sir Alex Ferguson ke David Moyes di Manchester United. "Tugas yang mustahil mengikuti Guardiola," ujar Sutton.
Guardiola sendiri berpesan kepada penerusnya: "Mereka harus menjadi diri sendiri. Cara berkomunikasi, cara bermain—semua harus autentik. Klub ini sangat baik dalam transisi. Semuanya akan berjalan baik."
Meski laga terakhir berakhir dengan kekalahan, Guardiola menegaskan bahwa ia pergi dengan rasa damai. "Bab ini akan selalu ada. Terima kasih kepada semua orang. Stand baru ini indah," tutupnya sebelum melakukan satu putaran penghormatan terakhir dan meninggalkan lapangan untuk selamanya.



