Kekalahan dari Bayern Munich Picu Restrukturisasi Besar-besaran di Real Madrid
Baca dalam 60 detik
- Real Madrid dipastikan mengakhiri musim tanpa trofi setelah tersingkir dari Liga Champions oleh Bayern Munich, memicu spekulasi pemecatan pelatih Alvaro Arbeloa.
- Krisis di klub tidak hanya terbatas pada kursi pelatih, melainkan juga mencakup masalah internal seperti ketidakseimbangan skuad, konflik ruang ganti, dan kesalahan medis yang menimpa pemain bintang.
- Restrukturisasi menyeluruh tengah dipertimbangkan, termasuk kemungkinan perombakan di jajaran direksi, staf medis, dan pendekatan rekrutmen yang selama ini terpusat pada presiden Florentino Perez.

Kekalahan Real Madrid dari Bayern Munich pada perempat final Liga Champions memastikan musim tanpa trofi bagi raksasa Spanyol tersebut. Kekalahan agregat 6-4 di Allianz Arena tidak hanya mengakhiri mimpi Eropa mereka, tetapi juga membuka pintu bagi gelombang perubahan besar di Santiago Bernabeu. Dengan tertinggal sembilan poin dari Barcelona di La Liga dan tersingkir dari Copa del Rey oleh klub divisi dua Albacete, tekanan terhadap pelatih Alvaro Arbeloa semakin tak terhindarkan.
Arbeloa, yang baru ditunjuk pada Januari lalu menggantikan Xabi Alonso, menghadapi masa depan yang tidak pasti. Meskipun ia mungkin akan tetap memegang kendali hingga akhir musim, sumber internal klub menyebutkan bahwa pemecatan hampir pasti terjadi. Presiden Florentino Perez memiliki sejarah panjang dalam memecat pelatih yang gagal membawa trofi, dengan Zinedine Zidane menjadi satu-satunya pengecualian dalam dua dekade terakhir. Arbeloa sendiri enggan berspekulasi, menyatakan bahwa keputusan sepenuhnya ada di tangan klub.
Namun, perubahan yang dibayangkan tidak hanya berhenti di kursi pelatih. Sumber-sumber di sekitar klub mengindikasikan bahwa restrukturisasi menyeluruh tengah dipertimbangkan, mencakup aspek rekrutmen, struktur organisasi, hingga staf medis. Dua musim tanpa gelar telah menyoroti sejumlah kelemahan mendasar, termasuk ketidakseimbangan skuad yang diakui oleh mantan pelatih Carlo Ancelotti dan Xabi Alonso. Keduanya menilai tim kekurangan kedalaman di beberapa posisi kunci seperti bek kanan, bek tengah, dan gelandang tengah.
Selain masalah teknis, isu ruang ganti juga menjadi perhatian serius. Sumber yang dekat dengan staf kepelatihan sebelumnya menggambarkan tim ini sebagai "tidak mungkin dilatih" karena pemain memiliki kekuasaan yang terlalu besar. Kehadiran bintang-bintang seperti Kylian Mbappe, Vinicius Junior, dan Jude Bellingham menambah kompleksitas dalam menjaga harmoni tim. Beberapa pihak menyarankan bahwa satu pemain bintang harus dijual untuk mendatangkan rekrutan baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan taktis.
Di sisi medis, krisis cedera berkepanjangan telah menjadi momok sejak 2023. Kesalahan diagnosis cedera lutut Mbappe, di mana MRI dilakukan pada kaki yang salah, menjadi contoh nyata dari kegagalan sistem medis klub. Ketegangan antara pelatih kebugaran Antonio Pintus dan staf kepelatihan sebelumnya juga menambah kekacauan. Meskipun Pintus sempat dikesampingkan saat Alonso menjabat, ia kembali ke posisi terdepan setelah pemecatan Alonso.
Rumor mengenai perombakan di level manajemen juga mengemuka. Beberapa sumber menyebutkan bahwa klub sedang mempertimbangkan untuk merekrut direktur olahraga baru guna memperbaiki proses rekrutmen yang selama ini terpusat pada Perez, Jose Angel Sanchez, dan Juni Calafat. Namun, sumber internal membantah adanya rencana tersebut, serta menepis spekulasi tentang perebutan kekuasaan antara Sanchez dan penasihat eksternal Anas Laghrari.
Masa depan Arbeloa mungkin akan segera ditentukan, tetapi perubahan yang lebih fundamental di Real Madrid tampaknya tidak bisa dihindari. Dengan musim yang tersisa hanya beberapa pekan, klub harus segera mengambil keputusan strategis untuk memastikan mereka kembali ke jalur kemenangan musim depan.



