Kontroversi Gol Cunha: Premier League Sebut Handball Mbeumo 'Tidak Sengaja', Gol United Sah
Baca dalam 60 detik
- Momen krusial: Gol Matheus Cunha pada menit ke-55 dalam kemenangan Manchester United 3-2 atas Nottingham Forest menjadi perdebatan setelah bola mengenai lengan Bryan Mbeumo sesaat sebelum gol tercipta.
- Keputusan wasit: Michael Salisbury mempertahankan keputusan awal setelah pengecekan VAR, dengan alasan handball yang terjadi bersifat tidak sengaja dan tidak mempengaruhi proses terciptanya gol.
- Krisis kepercayaan: Premier League telah kehilangan 19 jam waktu bermain akibat intervensi VAR musim ini—setara 12 pertandingan penuh—dengan 23 kesalahan tercatat, naik 35 persen dari musim sebelumnya.

MANCHESTER, INGGRIS — Keputusan kontroversial wasit Michael Salisbury menjadi sorotan usai laga Manchester United melawan Nottingham Forest yang berakhir dengan skor 3-2 untuk tuan rumah. Gol ketiga United yang dicetak Matheus Cunha pada menit ke-55 memicu perdebatan sengit karena rekaman menunjukkan bola sempat menyentuh lengan pemain Bryan Mbeumo—yang saat itu mengenakan seragam United—sebelum akhirnya mengarah ke gawang lawan. Premier League Match Centre melalui media sosial X kemudian mengonfirmasi bahwa gol tersebut dinyatakan sah karena handball dinilai tidak disengaja dan tidak secara langsung menciptakan peluang gol.
Kronologi Kontroversi dan Dampaknya terhadap Jalannya Laga
Pertandingan yang menjadi laga kandang terakhir musim ini bagi Michael Carrick selaku pelatih United berlangsung dramatis. Setelah Forest berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-53, gol Cunha dua menit kemudian mengembalikan keunggulan tuan rumah. Namun, tayangan ulang menunjukkan bahwa bola yang dioper ke arah Cunha sebelumnya mengenai lengan Mbeumo yang tidak dalam posisi alami. Wasit Salisbury, setelah berdiskusi dengan tim VAR dan meninjau monitor di pinggir lapangan, memutuskan untuk tidak membatalkan gol dengan alasan handball yang terjadi bersifat aksidental. Pernyataan resmi Premier League Match Centre membacakan pengumuman wasit: "Setelah peninjauan, keputusan gol tetap dipertahankan karena pelanggaran handball tidak disengaja, oleh karena itu keputusan akhir adalah GOL."
Keputusan ini menuai kritik tajam dari berbagai kalangan. Gary Neville, mantan bek United yang kini menjadi komentator, menyoroti kelemahan protokol VAR yang memberikan terlalu banyak ruang interpretasi subjektif. Sementara itu, West Ham United baru-baru ini juga mengalami kekecewaan serupa ketika gol telat mereka dianulir melawan Arsenal pekan sebelumnya. Fakta bahwa keputusan akhir sepenuhnya bergantung pada interpretasi wasit tentang niat pemain—sesuatu yang sulit diukur secara objektif—menjadi sumber utama frustrasi baik di kalangan klub maupun penggemar.
📊 KRISIS VAR DALAM ANGKA
Waktu hilang: 19 jam (setara 12 pertandingan penuh)
Kesalahan musim ini: 23 insiden
Peningkatan kesalahan: ↑ 35% dari musim lalu
Peringkat Eropa: Premier League tertinggi untuk waktu hilang akibat VAR
Antara Akurasi dan Fluiditas: Dilema VAR di Premier League
Insiden ini membuka kembali perdebatan lebih besar tentang efektivitas teknologi Video Assistant Referee di sepak bola Inggris. Di satu sisi, VAR hadir untuk memperbaiki kesalahan nyata yang terlewat oleh wasit di lapangan—seperti offside, pelanggaran keras, atau gol yang tidak sah. Namun, implementasinya selama beberapa musim terakhir justru sering menimbulkan kontroversi baru, terutama ketika keputusan melibatkan interpretasi subjektif seperti intensitas pelanggaran, posisi tangan dalam handball, atau niat pemain. Musim ini tercatat sebagai salah satu yang paling kacau: Premier League kehilangan 19 jam waktu bermain untuk pengecekan VAR, tertinggi di antara liga-liga top Eropa. Angka 23 kesalahan menurut panel Key Match Incidents juga menunjukkan peningkatan 35 persen dibanding musim lalu—sebuah tren yang mengkhawatirkan.
Prospek ke Depan: Reformasi VAR atau Kembali ke Cara Lama?
Kontroversi berulang ini memunculkan pertanyaan mendasar bagi pengelola Premier League dan IFAB: apakah teknologi VAR perlu direformasi secara fundamental, atau akankah kompetisi mulai mengurangi frekuensi intervensi dan memberikan kepercayaan lebih besar kepada wasit di lapangan? Beberapa usulan yang mengemuka termasuk penerapan sistem "challenge" seperti dalam tenis atau kriket, di mana manajer klub dapat meminta pengecekan ulang sebanyak terbatas per pertandingan. Usulan lain adalah membatasi intervensi VAR hanya pada kesalahan "jelas dan nyata" (clear and obvious) seperti yang dijanjikan saat pertama kali teknologi ini diperkenalkan. Bagi investor dan pemangku kepentingan dalam industri sepak bola—termasuk penyiar, sponsor, dan klub itu sendiri—kredibilitas kompetisi adalah aset yang tidak ternilai. Setiap musim yang diwarnai kontroversi kepemimpinan wasit berisiko menggerus kepercayaan penonton, yang pada akhirnya berdampak pada nilai hak siar dan daya tarik komersial liga. Satu hal yang pasti: tanpa perubahan signifikan, polemik seperti gol Cunha vs Nottingham Forest akan terus menjadi warna kelam dalam permainan yang seharusnya indah.
"Setelah peninjauan VAR, keputusan untuk memberikan gol dipertahankan karena pelanggaran handball tidak disengaja, oleh karena itu keputusan akhir adalah GOL." — Pengumuman resmi wasit Michael Salisbury melalui Premier League Match Centre.



