Duel Dua Legenda: Bagaimana Lineker dan Neville Membangun Kerajaan Media Digital
Baca dalam 60 detik
- Gary Lineker dan Gary Neville, dua ikon sepak bola Inggris, kini bersaing di industri media digital melalui platform Goalhanger dan The Overlap.
- Goalhanger unggul di podcast dengan 75 juta unduhan bulanan, sementara The Overlap mendominasi YouTube dengan 1,66 juta subscriber dan 2,2 miliar tayangan.
- Kesuksesan mereka menandai pergeseran konsumsi konten olahraga dari siaran tradisional ke format digital yang lebih personal dan bebas regulasi.

Gary Lineker dan Gary Neville, dua nama besar dalam sejarah sepak bola Inggris, tidak pernah bermain bersama di lapangan hijau. Namun, di luar lapangan, keduanya kini menjadi rival dalam bisnis media digital yang berkembang pesat. Melalui platform masing-masing—Goalhanger milik Lineker dan The Overlap milik Neville—mereka berhasil membangun kerajaan konten yang menantang dominasi penyiaran tradisional.
Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam cara penggemar mengonsumsi berita dan hiburan olahraga. Jika dulu penonton bergantung pada jadwal siaran televisi, kini mereka beralih ke podcast dan video sesuai permintaan yang menawarkan kebebasan dan kedekatan dengan figur publik. Lineker dan Neville berada di garda depan tren ini, memanfaatkan popularitas pasca-karier mereka untuk menciptakan bisnis yang menguntungkan.
Goalhanger, yang didirikan Lineker pada 2014, telah menjadi mesin produksi podcast terkemuka. Dengan lebih dari 250.000 anggota berbayar dan 75 juta unduhan bulanan, perusahaan ini melaporkan laba lebih dari £3 juta pada paruh kedua 2024. Kesepakatan dengan Netflix untuk menayangkan "The Rest Is Football" selama Piala Dunia 2025 menjadi bukti pengaruhnya. Sementara itu, The Overlap milik Neville, yang diluncurkan pada 2021, mengklaim 2,2 miliar tayangan di semua platform pada 2025. Akuisisi terhadap kanal YouTube Mark Goldbridge, yang memiliki 3,7 juta subscriber, memperkuat posisinya di segmen video.
Meski berbeda pendekatan—Goalhanger fokus pada audio dengan jangkauan genre luas (politik, sejarah, sains), sedangkan The Overlap mengutamakan video dan komunitas sepak bola—keduanya sama-sama menantang penyiar tradisional. Roger Mosey, mantan eksekutif BBC, menilai bahwa media arus utama terikat regulasi dan imparsialitas, sehingga tidak bisa sekritis atau se-emosional konten yang dihasilkan para mantan pemain. Hal ini menjadi keunggulan kompetitif bagi Lineker dan Neville.
Namun, tantangan tetap ada. Jimmy Worrall, pendiri The Football Boardroom, mengingatkan bahwa bisnis ini masih kecil secara pendapatan dibandingkan raksasa media. "Mereka mengambil perhatian penonton, tetapi tidak memiliki konten siaran langsung premium yang menjadi 'emas' sebenarnya," ujarnya. Ia juga menyoroti risiko konflik kepentingan, terutama bagi Neville yang masih menjadi pundit Sky Sports. Akuisisi Goldbridge, yang dikenal dengan kritik pedas terhadap Manchester United, berpotensi menimbulkan gesekan dengan peran Neville di Sky.
Scott Melvin, rekan bisnis Neville, menegaskan bahwa The Overlap melihat Goldbridge sebagai aset terpisah. "Tidak ada gunanya menginvestasikan uang lalu mengubahnya menjadi presenter tradisional. Kami ingin mengembangkan kanalnya bersama dia," jelasnya. Sementara itu, Tony Pastor dari Goalhanger optimistis bahwa industri ini masih memiliki ruang besar untuk bertumbuh. "Kami telah menciptakan 80 lapangan kerja dan membuktikan bahwa konten panjang dan cerdas masih diminati," katanya.
Ke depan, persaingan antara Lineker dan Neville diprediksi akan semakin ketat seiring ekspansi ke pasar Amerika Serikat dan format baru. Meskipun demikian, para pengamat sepakat bahwa fenomena ini bukanlah "pemenang mengambil semua". Mike Carr dari Crowd Network menekankan bahwa pertumbuhan audiens, terutama di YouTube, masih sangat awal. "Apa yang dilakukan Lineker dan Neville justru membantu mengedukasi merek dan audiens tentang kekuatan ruang ini," pungkasnya.



