Ketegangan geopolitik yang melanda kawasan Timur Tengah dan Eropa kini menjadi pendorong utama bagi Indonesia untuk mempercepat kemandirian ekonomi domestik. Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa hilirisasi tidak lagi terbatas pada sektor pertambangan, melainkan harus merambah ke industri kreatif seperti fashion, kuliner, dan kriya. Berdasarkan pernyataan resmi pada awal Maret 2026, langkah strategis ini diambil untuk memastikan bahwa produk lokal mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri, sekaligus memitigasi dampak gangguan rantai pasok global yang dipicu oleh konflik internasional.
Transformasi UMKM dan Digitalisasi Pasar
Secara teknis, pemerintah mengidentifikasi subsektor fashion, kriya, dan kuliner sebagai pilar utama yang memiliki eksposur tinggi terhadap pasar ekspor. Untuk menjaga integritas ekonomi nasional, ketersediaan (availability) platform digital dan literasi teknologi bagi pelaku UMKM menjadi mutlak diperlukan. Dengan mengalihkan fokus dari ketergantungan produk impor ke penguatan nilai tambah produk lokal, transmisi kebijakan ini diharapkan mampu menjaga beban kerja (workload) ekonomi tetap stabil meskipun permintaan eksternal mengalami fluktuasi akibat perang.
Kolaborasi Ekosistem untuk Performa Puncak
Keberhasilan hilirisasi kreatif ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, perbankan, akademisi, dan asosiasi industri. Fokus utama (main focus) dari inisiatif ini adalah memastikan bahwa market dalam negeri tetap terproteksi oleh brand-brand lokal yang kompetitif. Melalui pelatihan terarah seperti program digitalisasi bagi komunitas, pemerintah berupaya memastikan performa puncak (peak performance) sektor ekraf tetap terjaga. Tidak boleh ada sisa-sisa (remnant) ketergantungan pada barang konsumsi luar negeri jika Indonesia ingin memiliki struktur ekonomi yang resilien di masa krisis.




