Loyalitas dalam tinju adalah mata uang yang langka. Keputusan Conor Benn untuk menyeberang ke pelukan Dana White bukan sekadar urusan kontrak, melainkan sebuah pernyataan perang terhadap dominasi Matchroom di Inggris.
Jonny Nelson, pakar tinju Sky Sports, memberikan pandangan tajam mengenai situasi ini. Menurutnya, Eddie Hearn telah mempertaruhkan reputasi Matchroom selama bertahun-tahun untuk melindungi Conor Benn dari kecaman publik pasca-kasus tes doping yang gagal. Kepergian Benn ke Zuffa Boxing (Zuffa adalah perusahaan induk UFC) dianggap Nelson sebagai bentuk ketidaktahuan terima kasih yang akan membekas lama bagi Hearn.
Dampak Pergeseran ke Zuffa Boxing:
- Akses Pasar AS: Dana White dapat memberikan Benn panggung di Las Vegas yang sulit dicapai Matchroom di tengah kerumitan lisensi Benn di Inggris.
- Model Kontrak UFC: Benn kemungkinan akan menjadi petarung tinju pertama yang dikelola dengan model agensi UFC, memberikan jangkauan pemasaran lintas platform yang masif.
- Kerugian Matchroom: Kehilangan salah satu bintang "homegrown" terbesar mereka di saat persaingan dengan promotor Arab Saudi (Riyadh Season) juga semakin ketat.
Bagi Dana White, mendapatkan Conor Benn adalah langkah catur yang jenius. Benn adalah petarung muda, eksplosif, dan memiliki narasi "villain" yang sempurna untuk dipasarkan. Dengan infrastruktur Zuffa, White berencana menghancurkan monopoli promotor tinju konvensional dengan cara yang sama seperti ia membangun UFC.
Pertanyaan besarnya sekarang adalah: Siapa petarung Matchroom berikutnya yang akan tergoda oleh tawaran Las Vegas? Eddie Hearn kini harus berjuang keras untuk membuktikan bahwa model promosi tradisional masih relevan di tengah gempuran kekuatan modal dari Dana White dan pengaruh Timur Tengah.




