Tepat empat tahun sejak tembakan pertama dilepaskan pada 24 Februari 2022, konflik Rusia-Ukraina telah bertransformasi menjadi perang atrisi paling mematikan di abad ke-21. Data terbaru dari Moskow memberikan gambaran mengerikan tentang skala kehancuran alutsista di medan tempur.
Kementerian Pertahanan Rusia merilis ringkasan operasional yang menonjolkan angka "670 pesawat tempur" sebagai bukti superioritas udara mereka. Meskipun angka ini sering kali melampaui estimasi aset awal Ukraina sebelum perang—menandakan inklusi terhadap bantuan pesawat Barat yang telah dihancurkan atau klaim yang tumpang tindih—statistik ini menggarisbawahi kegagalan diplomasi untuk menghentikan pertumpahan darah hingga memasuki tahun 2026.
| Kategori Alutsista | Klaim Kehancuran (Februari 2026) |
|---|---|
| Pesawat Tempur | 670 unit |
| Helikopter | 283 unit |
| Pesawat Tanpa Awak (UAV) | 116.804 unit |
| Tank & Kendaraan Lapis Baja | 27.835 unit |
| Sistem Rudal Anti-Pesawat | 650 unit |
Di sisi lain, laporan independen dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan sisi gelap bagi Rusia sendiri. Meskipun mengeklaim dominasi material, Rusia ditaksir telah menanggung sekitar 1,2 juta korban militer (tewas dan terluka). Ukraina sendiri diperkirakan mengalami kerugian jiwa antara 500.000 hingga 600.000 tentara.
Kesimpulannya, saat perang memasuki tahun kelimanya, fokus internasional bergeser dari sekadar pengiriman senjata ke arah "kelelahan perang" (war fatigue). Dengan bantuan asing yang mulai melambat dan populasi yang terus berkurang, data kerugian pesawat ini menjadi pengingat pahit bahwa harga yang harus dibayar untuk kedaulatan dan ambisi geopolitik terus meningkat tanpa titik terang perdamaian yang nyata.




