Krisis Energi Global Warnai Kunjungan Rubio ke India: Diplomasi Ekonomi dan Geopolitik di Meja Perundingan
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi di New Delhi, membahas ketahanan energi di tengah krisis akibat penutupan Selat Hormuz.
- Washington menawarkan pasokan energi sebagai solusi mengurangi defisit perdagangan dengan India, meskipun biaya logistik dari AS dinilai lebih tinggi.
- Pertemuan Quad dan ketegangan terkait peran India dalam konflik Iran menjadi agenda sampingan yang turut memengaruhi dinamika hubungan bilateral.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, memulai kunjungan empat harinya ke India dengan agenda utama membahas krisis energi global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Narendra Modi di New Delhi, Rubio menyoroti potensi kerja sama energi sebagai pilar baru hubungan bilateral kedua negara.
Kunjungan ini terjadi di tengah terganggunya jalur pengiriman energi melalui Selat Hormuz, yang selama ini menjadi urat nadi pasokan minyak dan gas dunia. India, yang mengimpor lebih dari 80% kebutuhan energinya, menjadi salah satu negara paling terdampak. Hampir separuh impor minyak mentah India biasanya melewati selat tersebut, yang kini nyaris lumpuh akibat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Dalam pernyataan resmi, juru bicara Rubio menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran menyandera pasar energi global. "Kami menekankan bahwa produk energi AS berpotensi mendiversifikasi pasokan energi India," ujar pejabat tersebut. Sebelum pertemuan, Rubio bahkan menyatakan kesiapan Washington untuk menjual energi sebanyak mungkin kepada India.
Meski demikian, para analis meragukan efektivitas solusi ini. Vineet Prakash, profesor kajian AS di Jawaharlal Nehru University, menilai bahwa jarak tempuh yang lebih jauh dan biaya logistik yang lebih tinggi membuat pasokan energi AS kurang kompetitif. "Ketahanan energi menjadi tema kunci kunjungan ini karena situasi Iran tidak akan selesai dalam waktu dekat," ujarnya. Prakash juga menambahkan bahwa India kemungkinan akan mendorong konsesi lebih lanjut, mengingat AS telah memberikan keringanan pembelian minyak Rusia.
Selain energi, kunjungan Rubio juga diwarnai ketegangan diplomatik terkait klaim Trump yang menyebut dirinya sebagai penengah konflik India-Pakistan tahun lalu. Delhi secara konsisten menolak keterlibatan pihak ketiga dalam urusan bilateral dengan Pakistan. Kedekatan Trump dengan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, turut memicu ketidakpuasan di kalangan pejabat India.
"Pembicaraan apa pun soal Pakistan kemungkinan besar akan dilakukan di balik pintu tertutup," ujar Prakash.
Di sisi lain, hubungan dagang kedua negara menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Trump menurunkan tarif timbal balik terhadap India dari 50% menjadi 18% awal tahun ini, dan kemudian menjadi 10% setelah putusan Mahkamah Agung AS. Langkah ini menyusul komitmen India untuk membeli barang-barang Amerika senilai USD500 miliar, termasuk energi, pesawat, teknologi, dan produk pertanian. Namun, para pakar perdagangan meragukan realisasi angka tersebut karena volume perdagangan saat ini masih jauh dari target.
India juga mempercepat liberalisasi kebijakan perdagangannya dengan menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan Inggris, Uni Eropa, Australia, dan Oman. Meski demikian, sektor-sektor sensitif seperti pertanian dan susu diperkirakan tetap dilindungi dalam kesepakatan akhir dengan AS.
Rubio dijadwalkan menghadiri pertemuan menteri luar negeri Quad pada 26 Mei di New Delhi, yang akan menjadi pemanasan menjelang KTT para pemimpin yang direncanakan akhir tahun ini. Namun, ketidakpastian partisipasi Trump membuat masa depan forum tersebut dipertanyakan. "Trump menyadari China bukan lawan yang mudah, sehingga ia menginginkan pendekatan berbeda terhadap Quad," kata Prakash. Bagi India, KTT Quad menjadi ajang memperkuat posisinya sebagai kekuatan geopolitik, terutama menjelang KTT BRICS yang akan digelar pada September mendatang.
Ke depannya, pernyataan publik Rubio mengenai peran India dalam konflik Iran akan menjadi indikator penting. Delhi diperkirakan akan tetap enggan terlibat secara militer dalam menjaga keamanan Selat Hormuz, dan lebih memilih jalur diplomasi. Pertemuan Quad juga akan menjadi ujian apakah forum tersebut masih relevan di tengah dinamika kekuatan global yang terus berubah.



