Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sedang mencoba memainkan kartu diplomatik paling ambisius dalam karier politiknya. Ia mengusulkan pembentukan aliansi regional yang bertujuan menyatukan Israel dengan dunia Arab melawan apa yang ia klasifikasikan sebagai ancaman kembar dari ekstremisme Sunni dan Syiah.
Visi ini sebenarnya merupakan perluasan dari fondasi Abraham Accords. Namun, di tahun 2026, retorika Netanyahu bergeser menjadi lebih tajam. Dengan mengajak negara-negara Arab "moderat", Netanyahu berharap dapat mengisolasi Iran dan proksinya, sekaligus meredam gerakan militan lintas batas. Ia menekankan bahwa ancaman terhadap stabilitas tidak lagi hanya soal kedaulatan negara, melainkan ideologi radikal yang dapat menjatuhkan monarki dan pemerintahan Arab yang ada.
Poin Kunci Visi Aliansi Netanyahu:
- Musuh Bersama: Penekanan pada Iran sebagai ancaman eksistensial regional yang melampaui konflik Palestina-Israel.
- Integrasi Keamanan: Usulan untuk berbagi teknologi pertahanan, intelijen, dan sistem pertahanan udara terintegrasi antara Israel dan mitra Arab.
- Stabilitas Ekonomi: Mengaitkan keamanan dengan kemakmuran ekonomi melalui koridor perdagangan baru yang menghubungkan Teluk dengan Mediterania melalui daratan Israel.
Meskipun gagasan ini terlihat logis secara strategis bagi Israel, realitas di lapangan jauh lebih rumit. Sentimen publik di negara-negara Arab tetap sangat vokal menentang kerja sama terbuka dengan Israel selama isu Palestina belum mencapai resolusi yang adil. Para analis berpendapat bahwa tawaran Netanyahu mungkin lebih ditujukan untuk membangun citra sebagai "pencipta perdamaian" di hadapan sekutu Barat, khususnya Amerika Serikat, di tengah tekanan politik domestik yang berat.
Keberhasilan visi ini akan sangat bergantung pada bagaimana Israel menangani gejolak regional dalam beberapa bulan ke depan. Tanpa konsesi nyata, ajakan ini berisiko tetap menjadi sekadar retorika diplomatik di tengah api konflik yang masih membara.




