ADDIS ABABA (LyndNews) – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Afrika (AU) yang dijadwalkan berlangsung Februari 2026 ini diproyeksikan menjadi titik balik strategis bagi stabilitas Afrika Timur. Agenda utama pertemuan para kepala negara tersebut menyoroti urgensi penyelesaian perang saudara di Sudan yang kini memasuki tahun ketiga. Chatham House, dalam analisis terbarunya, menegaskan bahwa KTT ini merupakan peluang terakhir bagi AU untuk membuktikan relevansi kelembagaannya dengan mentransformasi pendekatan "pengabaian lunak" (benign neglect) menjadi tindakan koersif yang terukur guna memaksa Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF) kembali ke meja perundingan.
Secara struktural, kegagalan penyelesaian konflik Sudan sejauh ini disebabkan oleh proliferasi inisiatif perdamaian yang tidak terkoordinasi. Adanya jalur negosiasi paralel—mulai dari Proses Jeddah yang didukung AS-Saudi, inisiatif IGAD, hingga manuver diplomatik negara tetangga—justru memberikan ruang bagi faksi yang bertikai untuk melakukan forum shopping, memilih mediator yang paling menguntungkan posisi taktis mereka tanpa komitmen damai yang nyata.
KTT ini didesak untuk mengharmonisasi seluruh upaya tersebut di bawah satu panel tingkat tinggi AU yang memiliki mandat eksekusi, bukan sekadar fasilitator. Dalam konteks ekonomi politik, ketidakstabilan di Sudan telah mengganggu koridor perdagangan Laut Merah dan memicu krisis pengungsi terbesar di kawasan Sahel. Investor global kini memantau apakah AU berani menerapkan sanksi ekonomi atau embargo senjata yang efektif, mengingat dampak perang ini telah menyusutkan PDB regional secara signifikan dan menghambat integrasi pasar Afrika (AfCFTA).
Outlook Kebijakan: Jika KTT ini gagal menghasilkan peta jalan yang mengikat (binding roadmap), skenario terburuk bagi Sudan adalah fragmentasi permanen ala Libya, di mana negara terbagi menjadi wilayah kekuasaan milisi (warlordism). Hal ini tidak hanya akan menjadi kegagalan moral bagi kepemimpinan Afrika, tetapi juga menciptakan vakum keamanan yang dapat dieksploitasi oleh aktor eksternal dan kelompok ekstremis dalam jangka panjang.




