Algoritma Home Office Bebani Highland: Anak Pencari Suaka Naik Lima Kali Lipat, Rumah Tak Siap
Baca dalam 60 detik
- Highland Council menerima kuota anak pencari suaka tanpa pendamping lima kali lebih banyak dari sebelumnya akibat formula baru Home Office.
- Krisis perumahan dan tenaga kerja di wilayah itu membuat algoritma pusat dinilai tidak peka terhadap kondisi lokal.
- Pemerintah Inggris berjanji berbagi tanggung jawab lewat National Transfer Scheme, tetapi dewan lokal menuntut formula yang lebih adil.

Highland Council di Skotlandia menghadapi lonjakan tajam jumlah anak pencari suaka tanpa pendamping (unaccompanied asylum-seeking children/UASC) yang harus mereka rawat. Sejak Juli 2025, algoritma baru dari Home Office menetapkan kuota lima anak per siklus, padahal sebelumnya dewan hanya menerima satu anak per periode. Angka ini setara dengan peningkatan lima kali lipat dan menimbulkan kekhawatiran serius di tengah keterbatasan sumber daya lokal.
Menurut laporan resmi dewan, perubahan formula alokasi dari badan pemerintah pusat itu menimbulkan "tantangan signifikan". Hingga 31 Juli 2025, Skotlandia merawat 380 UASC, dan 72 di antaranya berada di bawah tanggung jawab Highland Council. Beban ini diproyeksikan terus bertambah karena siklus penempatan bisa berlangsung setiap dua minggu hingga beberapa bulan, bergantung pada arus kedatangan anak ke Inggris.
Highland Council sebelumnya mendapat pengakuan nasional atas kinerjanya menangani anak-anak yang melarikan diri dari perang atau persekusi. Namun, pejabat setempat menilai algoritma Home Office tidak mempertimbangkan kondisi riil di lapangan. "Algoritma Home Office saja tidak memadai tanpa pemahaman tentang kondisi lokal," tulis para pejabat dalam laporan tersebut, seraya menambahkan bahwa kawasan Highland memiliki tantangan perumahan akut, baik dari sisi ketersediaan maupun biaya, serta kekurangan tenaga kerja.
Krisis perumahan menjadi akar persoalan. Highland Council telah lama menyatakan wilayahnya kekurangan sekitar 24.000 unit rumah terjangkau selama satu dekade terakhir. Kondisi ini diperparah oleh minimnya penempatan pencari suaka dewasa di wilayah tersebut. Hingga kini, Home Office belum menempatkan satu pun pencari suaka dewasa di Highland, sehingga rasio UASC terhadap populasi lokal menjadi tidak proporsional. "Ketiadaan pencari suaka dewasa di Highland telah meningkatkan jumlah UASC pada 2026," ujar pejabat dewan.
Pada Juni 2025, pemerintah Inggris membatalkan rencana menampung hingga 300 pencari suaka pria di Cameron Barracks, Inverness. Pembatalan ini diduga turut mempersempit pilihan penempatan dan memperberat beban dewan. Home Office sendiri berdalih bahwa dewan lokal memiliki kewajiban hukum untuk mendukung anak-anak yang tiba tanpa orang tua atau wali. Juru bicara kementerian itu menyatakan komitmennya untuk bekerja sama erat dengan otoritas setempat, termasuk melalui National Transfer Scheme yang bertujuan mendistribusikan tanggung jawab secara adil di seluruh Inggris.
"Dewan lokal memiliki kewajiban statutori untuk mendukung anak-anak pencari suaka tanpa pendamping dan mereka yang meninggalkan layanan asuh, dan kami berkomitmen bekerja sama erat untuk membantu mereka memenuhi kewajiban tersebut," kata juru bicara Home Office.
Meski demikian, janji pemerintah pusat belum menjawab kekhawatiran konkret di Highland. Algoritma yang digunakan saat ini dianggap mengabaikan variabel-variabel krusial seperti ketersediaan rumah, biaya hidup, dan kapasitas tenaga kerja sosial. Akibatnya, dewan-dewan di daerah dengan keterbatasan struktural menerima beban lebih besar daripada yang seharusnya. Para pejabat Highland menyerukan agar formula alokasi direvisi dengan mempertimbangkan kondisi lokal secara lebih cermat.
Di sisi lain, anak-anak yang berhak atas layanan dapat tetap berada di bawah perawatan otoritas lokal hingga usia 21 tahun, dan sebagian lulusan layanan asuh berhak mendapat dukungan hingga ulang tahun ke-26. Ketentuan ini menambah kompleksitas anggaran dan operasional bagi dewan. Dengan dana ยฃ143 per anak per hari, Highland harus mengelola sumber daya terbatas untuk memenuhi standar perawatan yang layak.
Ke depan, persoalan ini akan menguji seberapa jauh pemerintah Inggris mampu menyeimbangkan kewajiban kemanusiaan dengan realitas kapasitas daerah. Jika algoritma tidak segera disesuaikan, gelombang penolakan dari otoritas lokal berpotensi meningkat, terutama di wilayah-wilayah dengan tekanan perumahan tinggi. Akankah Home Office merevisi formula sebelum beban semakin tak terkendali?



