Ubisoft Ajukan Tawaran untuk Arkane Studios, Masa Depan Blade di Ujung Tanduk
Baca dalam 60 detik
- Ubisoft dikabarkan telah mengajukan penawaran untuk mengakuisisi Arkane Studios, pengembang Dishonored dan Marvel's Blade, yang sedang dalam proses divestasi oleh Microsoft.
- Setidaknya tiga perusahaan telah menyampaikan minat, sementara Microsoft juga mempertimbangkan opsi penjualan kepada manajemen internal Arkane.
- Jika akuisisi terwujud, proyek Marvel's Blade yang sempat tertunda dapat kembali berjalan dan berpotensi rilis dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Raksasa game asal Prancis, Ubisoft, dikabarkan telah mengajukan tawaran untuk mengambil alih Arkane Studios, studio di balik seri Dishonored dan Marvel's Blade, yang saat ini sedang dalam proses divestasi oleh Microsoft. Langkah ini menjadi babak baru dalam upaya penyelamatan studio yang berbasis di Lyon tersebut dari ancaman penutupan permanen.
Menurut laporan Bloomberg, Ubisoft bukan satu-satunya peminat. Setidaknya ada tiga perusahaan yang telah menyampaikan penawaran, dan Microsoft juga tengah mempertimbangkan opsi untuk menjual Arkane kepada tim manajemen internal studio. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tawaran yang resmi diterima oleh pihak Xbox.
Arkane Studios berada di bawah tekanan sejak Microsoft mengumumkan gelombang PHK besar-besaran yang berdampak pada berbagai divisi, termasuk Xbox. Karena berbasis di Prancis, proses divestasi harus mengikuti hukum ketenagakerjaan setempat yang mewajibkan perusahaan mencari pembeli potensial sebelum melakukan penutupan. Tenggat waktu awalnya ditetapkan pada 13 November, namun diperpanjang hingga Desember mendatang.
Proyek Marvel's Blade sendiri telah diumumkan sejak The Game Awards 2023, namun sejak itu Arkane nyaris tidak memberikan pembaruan. Bahkan, jadwal rilis internal sempat mundur hingga akhir 2027. Jika Arkane berhasil diakuisisi dan terhindar dari penutupan, pengembangan game yang mengangkat karakter dhampir tersebut kemungkinan besar dapat diselesaikan. Bloomberg menyebut Blade "diperkirakan akan dirilis dalam satu atau dua tahun ke depan."
Bagi industri game global, dinamika ini mencerminkan tekanan besar yang dihadapi pengembang di bawah naungan korporasi raksasa. Konsolidasi dan efisiensi biaya seringkali berujung pada nasib studio-studio kreatif. Di sisi lain, minat Ubisoft terhadap Arkane menunjukkan bahwa masih ada keyakinan terhadap nilai intelektual properti yang dimiliki studio tersebut, terutama waralaba Dishonored yang memiliki basis penggemar setia.
Meskipun berita ini berasal dari pasar internasional, dampaknya terhadap ekosistem game Indonesia patut dicermati. Banyak pengembang lokal yang bercita-cita menembus pasar global dan menjalin kerja sama dengan publisher besar. Ketidakpastian yang menimpa Arkane menjadi pengingat bahwa stabilitas industri tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kebijakan korporasi dan regulasi ketenagakerjaan di negara asal. Selain itu, jika akuisisi oleh Ubisoft terwujud, arah kreatif Arkane bisa berubah, yang pada akhirnya memengaruhi preferensi gamer Indonesia terhadap judul-judul baru.
"Xbox sedang menjajaki opsi untuk Arkane menjelang tenggat waktu Desember," demikian pernyataan Bloomberg, mengutip sumber yang mengetahui proses tersebut.
Hingga saat ini, baik Microsoft, Ubisoft, maupun Arkane Studios belum memberikan komentar resmi. Namun, keputusan yang diambil dalam beberapa pekan ke depan akan sangat menentukan nasib studio yang telah lama berkontribusi pada industri game naratif tersebut. Akankah Arkane menemukan rumah baru dan melanjutkan proyek Blade, atau justru menjadi korban berikutnya dari restrukturisasi besar-besaran Microsoft? Publik menantikan kejelasan, sementara para penggemar berharap yang terbaik bagi kelangsungan karya-karya inovatif mereka.



