Sony Dorong Trade-in PS5 di Tengah Harga Konsol yang Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Sony menawarkan program tukar tambah PS5 melalui Back Market dengan nilai hingga $400, sebagai respons terhadap kenaikan harga konsol.
- Langkah ini ditempuh saat harga PS5 dan Xbox Series X naik akibat krisis VRAM yang dipicu AI, membuat konsol baru semakin mahal.
- Program trade-in menyasar pemilik yang berencana upgrade menjelang peluncuran GTA 6, tetapi nilai tukar dinilai kurang menarik dibanding harga pasar bekas.

Sony memperkenalkan opsi tukar tambah bagi pemilik PlayStation 5 (PS5) melalui kemitraan dengan Back Market, perusahaan yang bergerak di bidang keberlanjutan teknologi. Langkah ini diambil ketika harga konsol game mengalami kenaikan signifikan, membuat daya beli konsumen tertekan. Menurut informasi yang diterima sejumlah pemilik PS5, mereka dapat memperoleh hingga $400 untuk konsol lama dengan syarat kondisi baik dan menyertakan dua pengontrol.
Kenaikan harga konsol tidak hanya dialami PS5, yang telah mengalami dua kali kenaikan harga, tetapi juga Xbox Series X yang harganya melonjak tiga kali dalam setahun terakhir. Pemicu utamanya adalah krisis VRAM yang dipicu oleh perkembangan kecerdasan buatan (AI), yang diperkirakan akan semakin parah. Kondisi ini memaksa produsen untuk menaikkan harga jual, sementara pasokan terbatas. Sony pun mencari cara alternatif untuk tetap menjangkau konsumen, salah satunya melalui program tukar tambah ini.
Meski terlihat menguntungkan, tawaran Sony ini menuai kritik karena nilai tukar yang diberikan lebih rendah daripada harga pasar konsol bekas. Sebagai perbandingan, GameStop menawarkan harga yang lebih rendah, tetapi pasar refurbished seperti Back Market menjual PS5 dengan harga jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, program ini kemungkinan lebih menarik bagi pemilik yang memang berencana melakukan upgrade, terutama menjelang peluncuran game besar seperti Grand Theft Auto 6.
Langkah serupa juga dilakukan Microsoft melalui Xbox. Sepanjang 2026, Xbox gencar mendorong penggunanya untuk menukar konsol dengan uang tunai, dengan dalih sebagai opsi pragmatis bagi mereka yang tidak lagi menggunakan perangkatnya. Namun, CEO Xbox Asha Sharma mengklaim bahwa permintaan konsol Xbox melebihi pasokan, dan berencana memperluas program refurbishment. Klaim ini menuai skeptisisme mengingat penjualan Xbox generasi ini dinilai lebih lemah dibandingkan PlayStation.
"Program tukar tambah ini muncul di saat yang tepat, bersamaan dengan peluncuran game-game besar dan musim liburan, ketika permintaan konsol biasanya meningkat," ujar seorang pengamat industri game.
Bagi konsumen Indonesia, program trade-in ini belum tentu tersedia secara langsung. Namun, fenomena kenaikan harga konsol dan upaya produsen mempertahankan basis pengguna patut dicermati. Di pasar dalam negeri, PS5 masih menjadi salah satu konsol paling diminati, meskipun harganya cukup tinggi. Jika tren kenaikan harga berlanjut, bisa jadi konsumen Indonesia akan semakin selektif dalam membeli konsol baru atau beralih ke opsi bekas yang lebih terjangkau.
Ke depan, keberhasilan program trade-in ini akan bergantung pada respons pasar. Peluncuran PlayStation 6 yang kabarnya akan dibanderol dengan harga sangat mahal bisa menjadi pendorong bagi pemilik PS5 untuk mempertahankan konsol lama mereka, terutama dengan adanya fenomena jailbreak yang memungkinkan pengguna menjalankan aplikasi pihak ketiga. Di sisi lain, Sony dan Microsoft harus terus mencari keseimbangan antara mendorong penjualan baru dan mempertahankan loyalitas pengguna di tengah kondisi ekonomi yang menantang.



