Studi Besar Kaitkan Konsumsi Buah Utuh dengan Risiko Penyakit Jantung Lebih Rendah
Baca dalam 60 detik
- Survei terhadap 371.038 orang dewasa Amerika menemukan mereka yang menderita hipertensi, kolesterol tinggi, atau riwayat serangan jantung lebih jarang mengonsumsi buah utuh.
- Kandungan serat pada buah utuh berperan besar menjaga kesehatan jantung, sementara proses pembuatan jus menghilangkan sebagian besar serat tersebut.
- Meski begitu, studi ini bersifat observasional sehingga tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat; konsumsi jus 100% tanpa gula masih memiliki manfaat jika tidak berlebihan.

Sebuah studi berskala besar yang menganalisis data 371.038 orang dewasa di Amerika Serikat menemukan bahwa individu dengan tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, penyakit jantung koroner, atau riwayat serangan jantung cenderung lebih jarang mengonsumsi buah utuh dibandingkan mereka yang sehat. Temuan ini dipublikasikan di Current Developments in Nutrition dan menggunakan data survei BRFSS tahun 2019, memberikan gambaran baru tentang pola konsumsi buah dan kaitannya dengan kesehatan kardiovaskular.
Menariknya, pola konsumsi jus buah tidak menunjukkan hubungan yang konsisten. Partisipan dengan kolesterol tinggi justru mengonsumsi jus dalam jumlah lebih rendah, sementara mereka yang pernah mengalami serangan jantung memiliki asupan jus lebih tinggi. Tidak ada pola jelas untuk penderita hipertensi atau riwayat stroke. Rata-rata partisipan mengonsumsi buah utuh sekitar 1,06 kali sehari dan jus sekitar 0,3 kali sehari.
Para ahli yang tidak terlibat dalam studi menilai hasil ini sejalan dengan pengetahuan yang ada tentang manfaat makanan kaya serat. Dokter spesialis saraf dan stroke, Rab Nawaz, mengatakan temuan tersebut "sesuai dengan pemahaman bahwa makanan berserat tinggi baik untuk jantung, meskipun studi ini tidak dapat membuktikan bahwa makan lebih banyak buah mencegah penyakit jantung." Senada dengan itu, Jennifer Pallian, ahli diet terdaftar, menyebut hasil ini tidak mengejutkan. Ia merujuk pada studi prospektif besar di China yang melibatkan lebih dari 450.000 orang dewasa, yang menemukan bahwa mereka yang makan buah segar setiap hari memiliki risiko kematian kardiovaskular 40% lebih rendah dan risiko kejadian koroner mayor 34% lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang atau tidak pernah makan buah segar.
Perbedaan utama antara buah utuh dan jus terletak pada kandungan serat. Proses pengepresan atau penyaringan dalam pembuatan jus menghilangkan banyak serat dari daging buah. Pallian menjelaskan bahwa serat larut dapat mengikat garam empedu di saluran cerna dan meningkatkan ekskresinya, sehingga membantu menurunkan kolesterol LDL. Serat juga berperan menjaga tekanan darah, mengurangi peradangan, dan mendukung pengelolaan berat badan—semuanya berkontribusi pada risiko kardiovaskular. "Buah utuh juga mendorong rasa kenyang dan mengandung senyawa tanaman bermanfaat yang mendukung kesehatan pembuluh darah. Meskipun jus buah 100% menyediakan vitamin dan mineral, buah utuh umumnya merupakan pilihan sehari-hari yang lebih baik," ujar Nawaz.
Meski demikian, para ahli mengingatkan agar tidak serta-merta menjauhkan jus buah 100% dari pola makan. Pallian menekankan bahwa jus tetap memberikan manfaat nutrisi, dan beberapa karotenoid serta polifenol mungkin lebih mudah diserap dari jus dibandingkan buah utuh. Riset sebelumnya menunjukkan konsumsi hingga 200 mililiter jus dapat memberikan manfaat kardiovaskular. Studi besar di Belanda juga menemukan bahwa konsumsi jus 100% dalam jumlah moderat—hingga tujuh gelas kecil per minggu—terkait dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular dan jantung koroner secara signifikan.
Namun, studi ini memiliki keterbatasan mendasar. Desainnya observasional dan cross-sectional, hanya menangkap data pada satu titik waktu tanpa mengikuti partisipan dari waktu ke waktu. "Akibatnya, peneliti tidak dapat menentukan apakah kurang makan buah berkontribusi terhadap penyakit kardiovaskular atau apakah orang mengubah kebiasaan makan setelah didiagnosis," jelas Pallian. Studi juga mengukur frekuensi konsumsi, bukan jumlah pastinya, sehingga tidak memungkinkan perbandingan hasil kardiovaskular berdasarkan tingkat asupan yang berbeda. Selain itu, data diperoleh dari laporan sendiri (self-report) yang rentan terhadap ketidakakuratan ingatan, terutama dalam membedakan jus buah 100% dengan minuman rasa buah berpemanis. Partisipan juga tidak sepenuhnya representatif populasi AS secara keseluruhan.
"Meskipun temuan ini tidak menetapkan hubungan sebab-akibat, ini memberikan bukti kuat adanya kaitan antara konsumsi buah segar dan kesehatan kardiovaskular." — Jennifer Pallian, RD
Faktor lain seperti olahraga, berat badan, dan pola makan keseluruhan juga dapat memengaruhi hasil. Nawaz menambahkan bahwa tidak dapat dipastikan apakah partisipan mengubah kebiasaan makan setelah mengalami masalah jantung. Untuk mengatasi kesulitan mengonsumsi buah utuh karena teksturnya, ia menyarankan smoothie yang dibuat dari buah utuh—bukan jus yang disaring—karena proses pencampuran mempertahankan sebagian besar serat. Alternatif lain termasuk saus apel tanpa gula, pisang tumbuk, beri lunak, dan buah yang dimasak. "Tujuannya adalah membuat konsumsi buah nyaman dan berkelanjutan tanpa kehilangan manfaat nutrisinya secara tidak perlu," ujarnya.
Pallian menambahkan bahwa smoothie dari seluruh bagian buah yang dapat dimakan bisa menjadi jalan tengah yang praktis, meski tidak sepenuhnya setara dengan buah utuh. Studi yang membandingkan apel utuh, saus apel, dan jus apel menunjukkan apel utuh lebih mengenyangkan, menandakan bahwa struktur buah dan proses mengunyah berperan dalam pengaturan nafsu makan. Untuk pilihan jus yang lebih sehat, Nawaz merekomendasikan jus buah 100% tanpa tambahan gula dengan porsi moderat sekitar 4 ons (sekitar 120 mililiter).
Ke depan, pertanyaan yang tersisa adalah seberapa besar peran struktur fisik buah—bukan sekadar kandungan nutrisinya—dalam mencegah penyakit jantung. Studi longitudinal yang melacak kebiasaan makan dan hasil kardiovaskular selama bertahun-tahun diperlukan untuk memastikan arah hubungan. Sementara itu, pesan praktisnya bagi masyarakat, termasuk di Indonesia yang menghadapi beban penyakit jantung meningkat, adalah memperbanyak konsumsi buah utuh dan tidak menggantikannya dengan jus manis kemasan. Apakah pola konsumsi buah utuh juga tercermin dalam data kesehatan jantung di Indonesia? Jawabannya menunggu riset lokal yang lebih mendalam.



