Program Makanan Medis Terbukti Turunkan Gula Darah dan Tekanan Darah pada Pasien Diabetes Tipe 2
Baca dalam 60 detik
- Studi 8 bulan di New York menunjukkan program makanan yang disesuaikan medis menurunkan HbA1c sekitar 0,5 poin dan tekanan darah 4 mmHg.
- Efek tetap terjaga meski jumlah makanan dikurangi bertahap, asalkan disertai konseling gizi dan edukasi kesehatan jantung.
- Temuan masih bersifat awal karena hanya dipresentasikan sebagai abstrak konferensi dan belum melalui peer review.

Program pengiriman makanan yang dirancang khusus untuk kebutuhan medis pasien diabetes tipe 2 dan hipertensi terbukti memperbaiki kualitas pola makan serta sejumlah indikator kesehatan jantung. Temuan ini dipresentasikan dalam Scientific Sessions 2026 American Heart Association (AHA) dan menjadi sinyal bahwa pendekatan food is medicine kian mendapat tempat dalam tata kelola penyakit kronis.
Studi yang dipimpin Nour Makarem, PhD, dari Columbia University Mailman School of Public Health, melibatkan 110 orang dewasa di New York City. Selama delapan bulan, sebagian peserta menerima 10 makanan disesuaikan medis per pekan, sementara kelompok lain menerima jumlah sama selama tiga bulan pertama, lalu dikurangi satu porsi per pekan setiap bulan hingga tersisa lima porsi di bulan terakhir. Kedua kelompok juga mendapat konseling gizi, edukasi kesehatan jantung, demonstrasi memasak, serta bahan pangan segar.
Hasilnya, kedua kelompok menunjukkan perbaikan skor pola makan ala Mediterania sebanyak tiga poin. Kadar HbA1c turun sekitar 0,5 poin persentase, dan tekanan darah sistolik maupun diastolik turun sekitar 4 mmHg. Skor ketahanan pangan peserta juga meningkat dua kali lipat dibandingkan sebelum program. Yang menarik, pengurangan jumlah makanan tidak menurunkan manfaat yang diperoleh, asalkan intervensi pendamping tetap berjalan.
Menurut Makarem, program ini efektif karena pasien tidak perlu lagi direpotkan dengan belanja dan menyiapkan makanan sehat. "Ini memudahkan pasien untuk makan sehat," ujarnya kepada Medical News Today. Ia menambahkan bahwa pasien dengan kondisi kardiometabolik ganda bisa memperoleh manfaat besar dari program semacam ini. Namun, ia mengingatkan bahwa temuan masih bersifat pendahuluan karena baru berupa abstrak konferensi dan belum melalui telaah sejawat.
"Intervensi ini menurunkan tekanan darah lebih dari 4 mmHg dan gula darah lebih dari 0,5%. Perubahan ini bermakna secara klinis untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan morbiditas lebih lanjut," tegas Makarem.
Meski menjanjikan, studi ini memiliki keterbatasan. Hanya melibatkan 110 orang di satu lokasi, sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk populasi lain. Penilaian hanya dilakukan di awal dan akhir program, sehingga tidak diketahui apakah perbaikan bertahan setelah program berakhir. Penelitian juga tidak dapat memisahkan seberapa besar kontribusi makanan itu sendiri dibandingkan dengan edukasi dan konseling yang menyertainya.
Di Indonesia, prevalensi diabetes dan hipertensi terus meningkat. Data International Diabetes Federation (IDF) mencatat lebih dari 19 juta orang dewasa Indonesia hidup dengan diabetes pada 2021, sementara Riskesdas 2018 menunjukkan sekitar 34% penduduk dewasa menderita hipertensi. Akses terhadap makanan sehat dan bergizi seimbang masih menjadi tantangan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah di perkotaan. Program makanan medis seperti ini bisa menjadi model yang relevan jika diadaptasi dengan konteks lokal, misalnya melalui posyandu atau program bantuan pangan bersyarat.
Kendati demikian, biaya penyediaan makanan yang dipersonalisasi menjadi penghalang utama untuk perluasan program. Jika pengurangan jumlah makanan terbukti tetap efektif dengan pendampingan yang memadai, sistem kesehatan dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat. Pertanyaannya, apakah pemerintah dan penyedia layanan kesehatan di Indonesia siap menguji model serupa dalam skala terbatas untuk melihat dampaknya pada pasien diabetes dan hipertensi?



