Uji Klinis Fase 3: Obat Targeted Baru Kurangi Risiko Kematian Kanker Endometrium hingga 32%
Baca dalam 60 detik
- Sacituzumab tirumotecan (sac-TMT) menurunkan risiko progresi kanker endometrium lanjut sebesar 41% dan risiko kematian 32% dibandingkan kemoterapi standar.
- Temuan ini menjadi terobosan bagi pasien yang sebelumnya telah menjalani kemoterapi dan imunoterapi, dengan perpanjangan kelangsungan hidup keseluruhan hampir 7 bulan.
- FDA AS telah menerima permohonan lisensi biologis untuk review prioritas, membuka jalan bagi ketersediaan obat ini di pasar global.

Hasil uji klinis fase 3 TroFuse-005 mengungkap bahwa sacituzumab tirumotecan (sac-TMT), obat kanker bertarget baru, mampu memperpanjang kelangsungan hidup pasien kanker endometrium lanjut atau kambuhan. Dibandingkan kemoterapi standar, obat ini menurunkan risiko kematian hingga 32% dan memperlambat progresi penyakit sebesar 41%.
Kanker endometrium merupakan kanker sistem reproduksi wanita yang paling umum, dengan angka kejadian dan kematian yang terus meningkat di seluruh dunia. Meski sering terdeteksi dini, pilihan terapi menjadi terbatas ketika kanker menyebar ke luar rahim atau kembali setelah pengobatan awal. Standar perawatan lini pertama saat ini adalah kombinasi kemoterapi platinum dan imunoterapi, namun banyak pasien mengalami progresi setelahnya. Hingga kini, belum ada standar baku untuk pasien pasca-kemoterapi dan imunoterapi, sehingga harapan hidup mereka umumnya kurang dari satu tahun.
Uji yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan European Society for Medical Oncology dan dipublikasikan di The Lancet ini melibatkan 776 wanita dengan kanker endometrium lanjut atau kambuhan yang telah menerima kemoterapi dan imunoterapi sebelumnya. Peserta direkrut dari lebih dari 200 pusat kanker di 29 negara, kemudian secara acak dibagi untuk menerima sac-TMT (386 orang) atau kemoterapi standar (390 orang). Hasilnya menunjukkan kelompok sac-TMT memiliki median kelangsungan hidup keseluruhan 19,0 bulan, hampir 7 bulan lebih lama dibandingkan kelompok kemoterapi yang mencapai 12,1 bulan. Tingkat respons objektif juga dua kali lipat lebih tinggi (35,1% vs 17,3%), dengan durasi respons median 11,1 bulan berbanding 6,9 bulan.
Sac-TMT bekerja dengan mekanisme antibody-drug conjugate (ADC), yaitu antibodi yang mengenali protein Trop-2 yang banyak terdapat pada permukaan sel kanker endometrium, kemudian mengantarkan agen kemoterapi secara langsung ke sel target. Menurut penulis studi Domenica Lorusso dari Humanitas University, Milan, Italia, pendekatan ini memungkinkan pelepasan obat di dalam sel tumor setelah terikat pada Trop-2, sehingga menghambat pembelahan sel kanker dan memicu kematian sel. "Trop-2 diekspresikan berlebih pada lebih dari 90% kanker endometrium, dan pada studi ini 98% pasien memiliki tumor dengan ekspresi Trop-2," ujarnya.
Lorusso menambahkan bahwa hasil ini sangat signifikan karena untuk pertama kalinya ada ADC yang menunjukkan perbaikan bermakna pada kelangsungan hidup keseluruhan dan kelangsungan hidup tanpa progresi pada populasi pasien tersebut. "Berdasarkan data ini, FDA AS telah menerima Permohonan Lisensi Biologis untuk review prioritas," katanya. Efek samping yang paling sering dilaporkan meliputi anemia, neutropenia, peradangan mulut, serta mata kering atau gatal, yang dinilai dapat dikelola. Meski demikian, evaluasi keamanan jangka panjang masih diperlukan.
Ke depan, sac-TMT berpotensi diuji untuk kanker lain yang juga mengekspresikan Trop-2, seperti kanker payudara, prostat, pankreas, dan ovarium. Namun, studi lebih lanjut diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya pada jenis kanker tersebut. bagi Indonesia, temuan ini membuka peluang akses terapi baru yang lebih efektif, meskipun tantangan biaya dan ketersediaan masih menjadi pekerjaan rumah. Regulator diharapkan dapat mempercepat proses evaluasi jika obat ini terbukti manjur, sehingga pasien kanker endometrium di tanah air tidak tertinggal dari kemajuan global.



