Vitamin B12 dan Mitos Kesehatan Jantung: Bukti Baru Sebut Manfaat Nyata Hanya untuk Stroke
Baca dalam 60 detik
- Ulasan ilmiah terbaru menyimpulkan suplemen B12 tidak terbukti mencegah serangan jantung atau kematian kardiovaskular secara konsisten.
- Efek protektif paling menjanjikan justru terlihat pada penurunan risiko stroke, terutama di populasi dengan kadar folat rendah.
- Pesan kunci bagi klinisi: perbaiki defisiensi B12 yang terkonfirmasi, bukan memberi suplemen rutin tanpa indikasi.

Suplemen vitamin B12 yang selama ini dipromosikan sebagai penjaga jantung ternyata tidak memiliki bukti kuat untuk mencegah serangan jantung atau kematian akibat penyakit kardiovaskular. Kesimpulan itu muncul dari ulasan ilmiah terbaru yang diterbitkan di Nutrition Journal, yang menelaah puluhan studi observasional dan uji klinis acak terkait vitamin B12 dan kesehatan pembuluh darah.
Ulasan tersebut menemukan bahwa meskipun B12 berperan penting dalam metabolisme homosistein—asam amino yang kadarnya tinggi berkaitan dengan risiko vaskular—menurunkan homosistein lewat suplemen tidak otomatis menurunkan angka serangan jantung. "Memperbaiki satu ukuran laboratorium tidak selalu berujung pada perbaikan luaran klinis," tegas Ameer Awashra, penulis utama ulasan dari Departemen Kedokteran Universitas Nasional An-Najah, Palestina, seperti dikutip Medical News Today.
Namun, ada satu celah optimistis: bukti terkuat manfaat B12 justru muncul pada pencegahan stroke. Menurut Awashra, efek ini lebih menonjol di wilayah yang tidak mewajibkan fortifikasi asam folat, karena populasi di sana cenderung memiliki kadar folat dasar yang lebih rendah. "Kebanyakan studi yang menunjukkan penurunan risiko stroke sebenarnya menguji kombinasi B12, asam folat, dan B6, sehingga kami tidak bisa menyimpulkan B12 bekerja sendirian," ujarnya.
Pesan ini sejalan dengan pandangan Cheng-Han Chen, ahli kardiologi intervensi dari MemorialCare Saddleback Medical Center, California, yang tidak terlibat dalam ulasan. Ia menilai perbedaan efek pada stroke dan jantung bisa terjadi karena keduanya memiliki mekanisme biologis yang berbeda meski kadang tumpang tindih. "Menurunkan homosistein tidak serta-merta menurunkan semua kejadian kardiovaskular secara merata. Perlu riset lanjutan untuk memastikan apakah B12 benar-benar protektif pada stroke di populasi tertentu," kata Chen.
Senada, Monique Richard, ahli diet terdaftar dari Nutrition-In-Sight, mengingatkan bahwa suplemen hanyalah satu variabel. "Kami perlu mempertimbangkan kondisi individu, alasan suplementasi, bentuk dan dosis, konsistensi penggunaan, serta apakah intervensi menyasar akar masalah," ujarnya. Ia menegaskan, memperbaiki defisiensi B12 yang terkonfirmasi tetap penting, tetapi menjanjikan perlindungan kardiovaskular secara umum adalah klaim yang belum didukung bukti konsisten.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi penyakit jantung yang tinggi dan maraknya iklan suplemen vitamin di pasar. Praktik pemberian suplemen B12 tanpa pemeriksaan kadar darah berisiko membebani biaya tanpa manfaat klinis signifikan. Skrining defisiensi B12—terutama pada kelompok vegetarian, lansia, dan pasien dengan gangguan penyerapan—menjadi langkah yang lebih rasional dibanding konsumsi rutin tanpa indikasi.
Ke depan, arah riset sebaiknya memetakan siapa yang paling diuntungkan dari suplementasi B12: apakah pasien dengan homosistein tinggi, defisiensi terkonfirmasi, atau populasi dengan asupan folat rendah. Dengan begitu, rekomendasi kesehatan masyarakat bisa lebih presisi, bukan sekadar imbauan global yang berlaku untuk semua orang.



