Inflasi India Cetak Rekor 22 Bulan, Sinyal Keras bagi Ekonomi Global
Baca dalam 60 detik
- Tingkat inflasi umum India melonjak ke 5,54% pada September, melampaui prediksi analis dan menandai kenaikan bulan ke-11 berturut-turut.
- Bank Sentral India (RBI) mengisyaratkan tidak akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, bahkan membuka peluang kenaikan lebih lanjut untuk menjinakkan harga.
- Krisis pangan dan energi yang dipicu perang serta cuaca ekstrem berpotensi mengerek biaya impor Indonesia, mengingat India adalah mitra dagang strategis di kawasan.

Laju inflasi ritel India menembus 5,54% secara tahunan pada September, naik dari 4,82% pada Agustus dan menjadi level tertinggi dalam 22 bulan terakhir. Angka ini melampaui konsensus ekonom yang memperkirakan 5,40%, menandai bulan ke-11 berturut-turut kenaikan harga di ekonomi dengan pertumbuhan tercepat dunia tersebut.
Data Kementerian Statistik dan Implementasi Program India menunjukkan inflasi pangan melesat ke 7,74% dari sebelumnya 5,97%, dengan tekanan lebih berat di pedesaan ketimbang perkotaan. Biaya transportasi barang naik 14,73%, sementara transportasi pribadi meningkat 7,46%—menggambarkan tekanan biaya di hampir seluruh lini.
Bank Sentral India (RBI) awal bulan ini menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023, bergabung dengan sejumlah bank sentral utama yang memperketat kebijakan moneter. RBI menegaskan pemangkasan suku bunga "tidak lagi menjadi opsi dalam waktu dekat" dan langkah berikutnya bisa berupa kenaikan atau jeda.
Tekanan datang dari berbagai arah. India mengimpor hampir 85% kebutuhan bahan bakarnya dan sebelumnya sangat bergantung pada pasokan energi melalui Selat Hormuz. Ketegangan di Timur Tengah membuat harga minyak tetap tinggi dan berfluktuasi, sementara Badai Isaias menambah ketidakpastian pasokan global.
"Ini mungkin bukan siklus pengetatan yang dalam, tetapi ini tetap siklus pengetatan," tulis analis HSBC dalam laporan 7 Oktober, seraya memperkirakan kenaikan suku bunga lagi pada Desember.
Faktor cuaca memperburuk situasi. India menerima curah hujan terendah dalam lebih dari satu dekade selama Juni-September—musim krusial bagi pertanian tadah hujan. Beberapa negara bagian lumbung pangan seperti Maharashtra, Andhra Pradesh, Punjab, dan Haryana dilanda kekeringan ekstrem. Super El Nino menjadi ancaman tambahan bagi ekonomi pedesaan yang menjadi tulang punggung konsumsi domestik.
RBI sendiri merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi India naik 40 basis poin menjadi 7,1%, namun memperingatkan bahwa ketegangan geopolitik berkepanjangan, friksi perdagangan, pengetatan kondisi keuangan, dan harga komoditas internasional yang tinggi akan membebani aktivitas ekonomi.
Konteks Indonesia
Bagi Indonesia, lonjakan inflasi India bukan sekadar berita jauh. India adalah mitra dagang utama untuk batu bara, minyak sawit mentah (CPO), dan produk kimia. Permintaan yang melemah akibat inflasi tinggi dapat menekan harga ekspor komoditas Indonesia. Sebaliknya, jika India beralih ke sumber energi alternatif, permintaan batu bara Indonesia justru berpotensi naik dalam jangka pendek.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah efek domino harga minyak. Sebagai importir netto minyak, Indonesia rentan terhadap kenaikan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan Timur Tengah. Jika RBI menaikkan suku bunga lagi, aliran modal global bisa bergeser ke aset India, memperketat likuiditas di pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Pemerintah dan Bank Indonesia perlu mencermati dua hal: pertama, apakah inflasi pangan global akan menular ke harga domestik melalui kenaikan harga gandum dan minyak nabati; kedua, apakah pelemahan permintaan India akan mengurangi surplus dagang Indonesia. Keduanya menuntut respons kebijakan yang terukur, bukan sekadar reaktif.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah apakah RBI akan menaikkan suku bunga lagi pada Desember, dan seberapa dalam pengetatan yang diperlukan. Jika inflasi pangan tidak mereda dan El Nino berlanjut, India bisa memasuki fase stagflasi—pertumbuhan melambat, harga melonjak. Dampaknya akan terasa hingga ke Jakarta, terutama pada neraca perdagangan dan stabilitas rupiah.



