Kyle Larson Kokoh di Puncak Klasemen NASCAR, tetapi Talladega Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Kyle Larson memperlebar jarak menjadi 49 poin atas Denny Hamlin setelah balapan Bank of America 400, meski tidak tampil dominan.
- Denny Hamlin dan Christopher Bell gagal memanfaatkan peluang, sementara Chase Briscoe terus menekan dengan dua kemenangan beruntun.
- Empat balapan tersisa, dengan Talladega sebagai ujian terberat yang bisa mengubah peta persaingan juara.

Kyle Larson tidak memenangi Bank of America 400 di Charlotte, Minggu (13/10), namun ia meninggalkan sirkuit dengan posisi lebih kuat dalam perburuan gelar NASCAR Cup Series 2024. Pembalap Hendrick Motorsports itu kini memimpin klasemen dengan keunggulan 49 poin atas Denny Hamlin, 51 poin atas Christopher Bell, dan 65 poin atas Chase Briscoe, dengan hanya empat balapan tersisa.
Hasil tersebut terasa kontras dengan performa Larson yang tidak dominan sepanjang balapan. Ia beberapa kali kesulitan menjaga posisi di trek, tetapi tetap mampu mengumpulkan poin besar—sebuah keterampilan yang kerap menjadi pembeda antara juara dan penantang. Sementara itu, Hamlin harus menelan pil pahit setelah kehilangan poin di stage pertama akibat penalti di pit road, yang membuatnya kehilangan delapan poin berharga. Bell, yang finis di depan Larson, juga gagal memaksimalkan peluang setelah kalah duel dari Briscoe.
Bagi Larson, keunggulan ini memberinya ruang untuk bernapas, tetapi ia menolak bersantai. “Saya tidak akan merasa nyaman sampai semuanya berakhir,” ujarnya. “Briscoe menang dan bisa memangkas banyak poin jika terus menang. Kami akan menghadapi trek di mana pembalap lain sangat kuat, jadi kami harus tetap tampil solid seperti hari ini meski tidak menjadi yang tercepat.”
Di kubu Hamlin, hasil di Charlotte disebutnya sebagai hari yang biasa-biasa saja. “Kami belum tampil luar biasa, tetapi masih bertahan. Kami harus membenahi banyak hal, terutama kecepatan saat balapan benar-benar menentukan,” kata pembalap Joe Gibbs Racing itu. Ia menegaskan bahwa kemenangan menjadi harga mati jika ingin mengejar Larson. “Kami harus menang, tidak ada jalan lain. Kami juga perlu mengumpulkan lebih banyak poin stage,” tambahnya.
Kepala kru Larson, Cliff Daniels, menyebut balapan di Charlotte sebagai “reality check” karena mobil-mobil Joe Gibbs Racing masih menunjukkan kecepatan luar biasa. Meski demikian, ia memuji perkembangan Larson yang kini lebih terukur dalam mengambil risiko. “Kyle tahu kapan harus menekan, tetapi ia juga semakin matang dalam menghitung situasi. Tidak perlu ada yang saya sampaikan karena semuanya berjalan baik,” ujar Daniels.
Di sisi lain, Christopher Bell mengaku syok dengan hasil tersebut. “Saya masih shock. Saya tidak menyangka akan berakhir seperti ini,” katanya. Ia menyadari bahwa peluangnya semakin tipis, tetapi secara matematis masih terbuka. “Saya masuk dengan defisit 55 poin dan keluar dengan 51 poin. Itu tidak cukup, tetapi saya tidak akan menyerah,” tegasnya.
Chase Briscoe, yang meraih kemenangan beruntun, tetap optimistis. “Kami berada di posisi yang tidak diunggulkan, jadi kami hanya fokus menang. Satu-satunya cara memangkas jarak 65 poin adalah dengan menang dan mendapatkan poin besar,” ujarnya. Briscoe mengakui bahwa ia sempat kehilangan banyak poin akibat kecelakaan di Gateway dan Bristol, tetapi momentum saat ini membuatnya percaya diri. “Kami masih dalam pertarungan. Butuh satu atau dua kemenangan lagi, tetapi setidaknya kami sudah masuk dalam pembicaraan,” tambahnya.
Dengan empat balapan tersisa, jadwal akan semakin menantang. Phoenix International Raceway menjadi ujian pertama, diikuti Talladega Superspeedway—tрек yang terkenal dengan insiden beruntun dan sering menjadi jebakan bagi pemimpin klasemen. Setelah itu, Martinsville Speedway dan Homestead-Miami Speedway akan menentukan siapa yang layak mengangkat trofi. Larson saat ini berada di posisi ideal, tetapi sejarah menunjukkan bahwa keunggulan poin bisa menguap dalam sekejap, terutama jika ia terseret dalam kecelakaan di Talladega.
Pertanyaannya, mampukah Larson mempertahankan ketenangan dan menghindari risiko yang tidak perlu? Atau akankah Hamlin, Bell, dan Briscoe memanfaatkan setiap celah untuk membalikkan keadaan? Empat balapan tersisa akan menjadi ujian sesungguhnya bagi mentalitas juara.



