Joseph Gordon-Levitt: Kekhawatiran AI Bukan pada Mesinnya, tapi pada Manusia di Baliknya
Baca dalam 60 detik
- Aktor Joseph Gordon-Levitt menilai fokus ketakutan publik terhadap AI salah sasaran, karena yang perlu diawasi adalah para pengembang di balik model tersebut.
- Ia memperingatkan ambisi korporasi teknologi yang berpotensi menguasai ekonomi secara totaliter, sekaligus menyoroti praktik manipulasi emosional lewat AI.
- Sementara Ben Affleck memilih pendekatan berbeda dengan hanya memakai AI yang tidak mengeksploitasi karya berhak cipta, menandakan perpecahan strategi di kalangan sineas Hollywood.

Aktor Joseph Gordon-Levitt menegaskan bahwa kekhawatiran utama seputar kecerdasan buatan seharusnya tidak diarahkan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada segelintir perusahaan dan individu yang mengembangkannya. Dalam wawancara dengan The New York Times, bintang film berusia 45 tahun itu menilai bahwa diskursus publik tentang AI telah terjebak pada narasi ketakutan yang dangkal, sehingga mengaburkan persoalan struktural yang jauh lebih mendesak.
Gordon-Levitt secara spesifik menolak penyederhanaan isu AI menjadi sekadar pertanyaan "apa ketakutan terbesar Anda". Menurutnya, memadatkan kompleksitas risiko teknologi ini ke dalam satu kalimat sensasional justru menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Ia tidak memungkiri bahwa skenario kiamat—di mana AI dimusnahkan manusia—memiliki dasar logis, namun ia menegaskan bahwa itu bukan sumber kegelisahan utamanya.
Yang lebih mengusik perhatiannya adalah orientasi bisnis para pengembang model AI. Ia menyoroti kecenderungan perusahaan-perusahaan teknologi yang bertaruh pada ambisi menguasai seluruh lanskap ekonomi. Jika ambisi itu terwujud, menurutnya, hasilnya adalah bentuk totalitarianisme baru yang berbahaya. Ia juga menyoroti cara model AI dilatih untuk menyusup ke ruang intim pengguna—membangun kedekatan emosional, berpura-pura menjadi teman, bahkan mendorong keterikatan romantis. "Kita tidak seharusnya takut pada AI. Kita harus waspada terhadap orang-orang yang membangun AI," tegasnya.
Pandangan Gordon-Levitt ini muncul di tengah gelombang adopsi AI generatif yang kian masif di industri hiburan. Ia menyoroti bahwa model-model bahasa dan gambar saat ini dirancang tidak hanya untuk membantu, tetapi juga untuk menciptakan ketergantungan emosional—sebuah strategi yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai engagement hacking. Dalam konteks ini, kritik Gordon-Levitt menyentuh persoalan etika desain produk, bukan sekadar kemampuan teknis mesin.
Senada namun tak sepenuhnya sepakat, sineas Ben Affleck mengungkapkan pendekatannya sendiri dalam menggunakan AI. kepada The Hollywood Reporter, Affleck menegaskan bahwa ia menolak memakai alat yang dilatih dari karya berhak cipta atau kecerdasan buatan milik rekan seprofesinya. Ia mengaku telah membangun dataset kepemilikan sendiri agar proses kreatifnya tidak bersifat ekstraktif. "Saya sudah tidak nyaman dengan perilaku sebagian perusahaan teknologi terhadap citra dan kemiripan seseorang," ujarnya.
Affleck lebih memilih AI sebagai alat kolaboratif yang tersembunyi. Ia berargumen bahwa jika teknologi ini diserahkan kepada pembuat film sungguhan, hasilnya akan jauh lebih baik. Ia mencontohkan penggunaan alat AI di Netflix yang bersifat opsional dan terbatas—bukan untuk menciptakan aktor palsu atau menggantikan manusia, melainkan sebagai instrumen pascaproduksi yang, jika terlihat hasilnya, berarti gagal. Pendekatan ini menunjukkan adanya spektrum sikap di kalangan pembuat film: dari waspada kritis hingga adopsi pragmatis.
Perbedaan sikap antara Gordon-Levitt dan Affleck mencerminkan perpecahan yang lebih luas di industri kreatif global. Di satu sisi, ada dorongan untuk mengadopsi AI demi efisiensi produksi dan daya saing. Di sisi lain, muncul resistensi terhadap model bisnis yang dianggap mengeksploitasi karya kreatif tanpa kompensasi. Di Indonesia, isu serupa mulai mengemuka seiring meningkatnya penggunaan AI dalam produksi konten lokal, periklanan, dan perfilman. Para pekerja kreatif dalam negeri menghadapi tantangan ganda: keterbatasan regulasi perlindungan karya dan tekanan untuk mengikuti arus teknologi agar tidak tertinggal.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah AI akan menggantikan manusia, melainkan siapa yang mengendalikan teknologi ini dan untuk kepentingan siapa. Jika perusahaan teknologi terus mengejar dominasi ekonomi dan manipulasi emosional tanpa batas etis, kekhawatiran Gordon-Levitt bukanlah alarmisme—melainkan peringatan yang perlu direspons dengan kebijakan dan kesadaran kolektif.



