Pedro Acosta Geram Aturan Tekanan Ban MotoGP: Kami Tampil Seperti Keledai
Baca dalam 60 detik
- Pedro Acosta mengkritik keras regulasi tekanan ban MotoGP setelah insiden saling serah posisi dengan Marc Marquez di GP Indonesia.
- Aturan tekanan minimum dinilai mengubah taktik balapan dan merusak tontonan, dengan pembalap kehilangan posisi secara artifisial.
- Seruan agar pengecekan tekanan hanya dilakukan sebelum balapan mengemuka, sementara penalti waktu tetap menghantui pembalap KTM lainnya.

Pembalap Red Bull KTM, Pedro Acosta, melontarkan kritik pedas terhadap peraturan tekanan ban MotoGP usai balapan GP Indonesia. Menurutnya, regulasi yang membatasi tekanan minimum ban depan telah membuat para pembalap tampil tidak natural, bahkan ia menyebut mereka seperti "keledai" karena harus saling memberikan posisi di lintasan.
Insiden bermula ketika Acosta, yang start dari posisi kesembilan, berhasil menyalip Marc Marquez (Ducati) untuk merebut posisi keempat pada lap ketujuh. Namun, tekanan ban depan Michelin miliknya melewati ambang batas yang diizinkan, memaksanya mengembalikan posisi kepada Marquez dan membuntuti pembalap Spanyol itu. Selama 10-12 lap berikutnya, keduanya bergantian menempati posisi kelima, sebuah pemandangan yang dinilai merusak kualitas tayangan televisi.
Akibatnya, Ai Ogura dari Trackhouse Racing yang memanfaatkan situasi tersebut berhasil menyalip keduanya di akhir balapan, melengkapi dominasi Aprilia di empat posisi teratas. Ini merupakan hari kedua berturut-turut di mana aturan tekanan ban memengaruhi pembalap terdepan, setelah Jorge Martin terpaksa melepas keunggulan di balapan sprint karena alasan serupa.
Acosta menegaskan bahwa persyaratan tekanan minimum seharusnya hanya diterapkan sebelum balapan dimulai. "Kami terlihat seperti keledai," ujarnya. "Saya pikir Marquez mengalami masalah yang sama, karena dia juga membiarkan saya lewat. Saya paham harus ada tekanan minimum sebelum turun ke lintasan, tetapi Anda tidak bisa menentukan apa yang terjadi selama balapan. Contohnya kemarin dengan Martin, saya membayangkan balapannya direncanakan dengan Bezzecchi dan Marc di depan. Anda tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan pembalap lain."
"Saya kesulitan sepanjang balapan dengan tekanan ban depan, kehilangan banyak waktu, membiarkan Marc lewat, lalu menyalipnya lagi, kemudian membiarkannya lewat lagi, dan mulai menyalip lagi. Lalu Ogura menangkap kami. Dia lebih cepat, itu saja."
Marquez mengakui dirinya juga mengalami masalah tekanan ban, namun hal itu bukan faktor penentu kekalahannya dari Acosta. Sementara itu, pembalap KTM lainnya, Maverick Vinales, terkena penalti 16 detik karena gagal memenuhi tekanan ban minimum. Penalti tersebut tidak berdampak pada hasil akhirnya karena ia sudah berada di posisi terakhir dari pembalap yang finis di urutan ke-17.
Kritik Acosta menyoroti dilema regulasi teknis di MotoGP yang bertujuan meningkatkan keselamatan, tetapi sering kali mengorbankan integritas balapan. Aturan tekanan ban minimum diperkenalkan untuk mencegah risiko ledakan ban akibat tekanan rendah, namun implementasinya dianggap terlalu kaku dan tidak mempertimbangkan dinamika balapan. Pembalap dan tim kini dihadapkan pada pilihan sulit: mematuhi aturan atau kehilangan posisi secara artifisial.
Bagi penggemar MotoGP di Indonesia, insiden ini menjadi cerminan bahwa balapan tidak selalu ditentukan oleh kecepatan murni, melainkan juga oleh kepatuhan terhadap regulasi yang rumit. Dampaknya, kepercayaan penonton terhadap keadilan kompetisi bisa tergerus jika masalah serupa terus berulang. MotoGP perlu mengevaluasi kebijakan ini agar tidak menciptakan pertunjukan yang kontraproduktif.
Ke depan, desakan untuk merevisi aturan tekanan ban semakin menguat. Akankah MotoGP mengubah regulasi sebelum musim berakhir, atau justru mempertahankannya dengan risiko kehilangan daya tarik? Waktu yang akan menentukan, tetapi tekanan dari para pembalap seperti Acosta tidak bisa diabaikan begitu saja.



