Verstappen Menangi Singapura, Radio Rusak dan Kode Rahasia GP Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Max Verstappen mengakhiri kutukan Marina Bay dengan kemenangan dominan di Grand Prix Singapura, meski start dan radio sempat bermasalah.
- Insinyur balap Gianpiero Lambiase menggunakan instruksi kode karena radio Verstappen tidak berfungsi, memaksa komunikasi kreatif di momen krusial.
- Red Bull menyiapkan Tom Hart sebagai pengganti Lambiase dan akan bertugas di Austin, Brasil, dan Las Vegas sebelum transisi penuh pada 2027.

Max Verstappen akhirnya mematahkan kutukan Sirkuit Marina Bay. Pebalap Red Bull itu tampil dominan di Grand Prix Singapura akhir pekan lalu, meraih dua pole position dan dua kemenangan sepanjang format sprint. Namun di balik kesuksesan tersebut, tersimpan masalah teknis yang nyaris menggagalkan start dan komunikasi radio yang kacau sepanjang balapan.
Start menjadi momok bagi Red Bull musim ini. Verstappen mengakui bahwa ia masih merasakan ada yang tidak beres saat melepas kopling. "Start-nya kritis, dan itu hanya cukup baik. Lagi-lagi ada yang tidak beres, jadi saya harus memahami apa yang salah," ujarnya usai balapan. Masalah itu berbeda dari pekan-pekan sebelumnya; kali ini gangguan muncul sebelum kopling dilepas, memengaruhi performa mesin. Charles Leclerc sempat nyaris menyalip di Tikungan 7 akibat masalah deployment, tetapi Verstappen mampu bertahan setelah masalah teratasi.
Radio yang tidak berfungsi menambah kerumitan. Verstappen bisa mendengar tim, tetapi balasannya tidak terdengar jelas. "Mungkin GP senang radio itu tidak berfungsi!" canda Verstappen dalam konferensi pers. Ia mengaku sudah mengalami masalah radio sepanjang musim, dan akhir pekan ini menjadi yang terburuk. Insinyur balapnya, Gianpiero Lambiase, harus berimprovisasi: ia meminta Verstappen diam jika ingin pit stop tambahan saat safety car, atau menekan tombol radio jika ingin tetap di lintasan.
"Mobil-mobil ini rumit dan ada banyak dialog yang harus terjadi antara pebalap dan insinyur. Tapi seperti yang Anda lihat, GP menemukan caranya untuk berkomunikasi dengan Max dan sebaliknya ketika momen itu penting," kata Kepala Tim Red Bull, Laurent Mekies.
Mekies menegaskan masalah radio murni berasal dari pihak Red Bull dan tidak terkait dengan kondisi teknis di Singapura. "Itu bukan karena keadaan, tapi dari sisi kami. Kami akan kembali dengan solusi yang kuat karena ini bisa memakan waktu krusial di momen krusial," tambahnya.
Sebagai bentuk penghargaan atas kerja kerasnya, Red Bull mengirim Lambiase ke podium bersama Verstappen. Momen itu mengejutkan juara dunia empat kali tersebut. "Saya tidak menyangka. Saya ingat dia berkata tahun lalu di Vegas, 'Ini mungkin terakhir kalinya saya di podium.' Saya bilang, 'Jangan konyol, kita akan menang lebih banyak.' Tapi sepertinya saya hampir menyumpahi diri sendiri!" kenang Verstappen sambil tertawa. "Sangat menyenangkan dia di sana. Kita semua tahu dia akan pergi, tapi berbagi podium di trek yang belum pernah kita menangi bersama itu istimewa."
Red Bull kini bersiap menyambut Tom Hart sebagai insinyur balap masa depan Verstappen. Hart awalnya dijadwalkan bergabung dengan Williams untuk menjadi insinyur Alexander Albon, tetapi setelah Verstappen menyatakan preferensinya secara internal, Red Bull berhasil membatalkan kepindahan itu dan mempertahankan Hart. Belum ada tanggal resmi kapan Hart akan mengambil alih penuh, karena Red Bull masih berdiskusi dengan McLaren mengenai tanggal mulai Lambiase dan masa gardening leave-nya. Transisi penuh diperkirakan baru terjadi pada 2027.
Sementara itu, Hart akan menjalani beberapa akhir pekan balapan bersama Verstappen untuk membangun chemistry. Red Bull mengonfirmasi bahwa Hart akan menjadi insinyur balap Verstappen di Austin, Brasil, dan Las Vegas, sementara Lambiase tetap hadir di sirkuit menjalankan tugasnya sebagai Head of Racing. Transisi ini menjadi ujian bagi Red Bull dalam menjaga stabilitas performa di tengah perubahan personel kunci. Mampukah Hart mengisi sepatu Lambiase yang telah menjadi partner setia Verstappen selama bertahun-tahun?



