Amazon Hapus NDA untuk Data Center, Sinyal Industri AI Mulai Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Amazon mengumumkan tidak lagi memakai perjanjian kerahasiaan dalam negosiasi data center dengan pemerintah lokal, mengikuti langkah Microsoft.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya industri AI memperbaiki komunikasi yang selama ini tertutup dan memicu resistensi masyarakat.
- Moratorium data center di sejumlah wilayah AS hanya berlaku 1โ2 tahun, sementara pembangunan butuh 3โ5 tahun, sehingga dampaknya belum jelas.

Amazon baru-baru ini menyatakan tidak akan lagi menggunakan perjanjian kerahasiaan atau non-disclosure agreement (NDA) ketika bernegosiasi dengan pemerintah daerah soal pembangunan pusat data. Kebijakan ini menyusul langkah serupa yang diambil Microsoft awal tahun ini, menandai pergeseran sikap industri teknologi yang selama ini dikenal tertutup dalam urusan infrastruktur.
Pengumuman itu disampaikan Amazon di sela sebuah unggahan blog panjang yang berupaya meyakinkan publik bahwa pusat data membawa manfaat bagi komunitas. Namun, menurut sejumlah pengamat, pernyataan tersebut justru menyoroti akar masalah yang lebih dalam: komunikasi industri yang buruk dan negosiasi yang dilakukan secara rahasia.
Dalam diskusi di podcast Equity milik TechCrunch, jurnalis Sean O'Kane menilai keputusan Amazon sebagai langkah awal yang positif, meski ia skeptis terhadap dampak langsungnya. "Selama ini banyak proyek dinegosiasikan secara tertutup. Kadang publik hanya tahu bahwa itu pusat data, tanpa mengetahui siapa yang akan menggunakannya," ujarnya. Ia membandingkan situasi ini dengan taktik Uber pada pertengahan 2010-an yang kerap melobi pemerintah lokal tanpa transparansi.
Rebecca Bellan, rekan Sean di TechCrunch, menyoroti bahwa gelombang moratorium pusat data di berbagai daerah di Amerika Serikat tidak serta-merta menghambat pembangunan. "Banyak moratorium hanya berlaku satu hingga dua tahun, padahal pusat data baru akan beroperasi dalam tiga sampai lima tahun ke depan," katanya. Ia memperkirakan bahwa penundaan justru lebih banyak disebabkan oleh faktor zonasi dan pendanaan ketimbang tekanan politik.
Meski demikian, Anthony Ha, editor TechCrunch, menilai para pengembang pusat data jelas merasa terancam. "Anda bisa melihat kegelisahan mereka dari cuitan-cuitan bernada keras dari tokoh seperti Trump atau David Sacks," ujarnya. Ia menambahkan bahwa moratorium di New York, yang secara teknis menunggu kajian lingkungan, memberi ruang bagi pemerintah untuk nantinya berbalik mendukung proyek.
"Industri ini benar-benar gagal menjelaskan dirinya sendiri. Mereka frustrasi karena banyak orang tidak bisa membayangkan dunia di mana teknologi ini berguna bagi mereka." โ Sean O'Kane, TechCrunch
Kritik terhadap komunikasi industri AI juga mencuat dalam diskusi tersebut. Sean menyebut fenomena "go direct" yang membuat perusahaan teknologi enggan berinteraksi dengan media justru memperparah kesalahpahaman publik. Ia mencontohkan Tesla yang setahun terakhir gencar mempromosikan visi "abundance" namun hingga kini belum memberikan definisi yang jelas, bahkan setelah merilis dokumen panjang. "Itu terbaca seperti omong kosong LLM," sindirnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat gelombang investasi pusat data yang mulai masuk ke kawasan seperti Batam, Jakarta, dan Bali. Pemerintah Indonesia tengah mendorong pengembangan infrastruktur digital, namun seringkali negosiasi dengan investor asing dilakukan tanpa keterbukaan penuh. Jika tren global menuju transparansi terus menguat, perusahaan teknologi yang beroperasi di Indonesia mungkin perlu menyesuaikan pendekatan mereka agar tidak menuai resistensi serupa dari masyarakat lokal.
Ke depan, keberhasilan langkah Amazon dan Microsoft akan bergantung pada apakah mereka benar-benar membuka dialog dengan komunitas, bukan sekadar menghapus NDA. Pertanyaannya, apakah industri AI siap berkomunikasi secara jujur, ataukah ini hanya strategi kosmetik untuk meredam gelombang penolakan yang semakin besar?



