Hamilton Abaikan Perintah Ferrari di Singapura, Vasseur: Itu Kesalahan
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton menolak masuk pit saat Virtual Safety Car di GP Singapura, memilih bertahan di lintasan dan finis keenam.
- Keputusan itu membuatnya kehilangan posisi podium dan menjadi sorotan karena ban soft-nya degradasi parah.
- Ferrari dan Hamilton sepakat menyebutnya sebagai pelajaran mahal, tetapi mempertanyakan batas otonomi pembalap dalam strategi tim.

Keputusan Lewis Hamilton untuk mengabaikan instruksi pit Ferrari selama periode Virtual Safety Car (VSC) di Grand Prix Singapura berujung pada hasil pahit: finis keenam setelah start dari posisi ketiga. Manajer tim Ferrari, Fred Vasseur, tidak menyembunyikan kekecewaannya dan menyebut langkah pembalap Inggris itu sebagai kesalahan yang jelas.
Insiden tersebut terjadi di Sirkuit Marina Bay, Minggu (22/9). Ketika balapan dinetralkan, Ferrari memerintahkan kedua pembalapnya untuk masuk pit. Namun Hamilton memilih bertahan di lintasan dengan ban soft yang sudah aus, berusaha mempertahankan posisi. Ia kemudian menjalani stint panjang 44 lap, dan pada 22 lap terakhir setelah VSC, ia kehilangan rata-rata 2,5 detik per lap dibandingkan rekan setimnya, Charles Leclerc. Akibatnya, ia disalip oleh Kimi Antonelli dan dua pembalap McLaren, melorot ke urutan keenam.
Vasseur mengungkapkan bahwa komunikasi tim sebenarnya gamblang. "Kami memanggil kedua mobil untuk masuk pit di belakang VSC. Salah satu pembalap mengatakan tidak, atau lebih tepatnya dia melewatkan pintu masuk pit," ujarnya kepada media. Meski demikian, Vasseur menegaskan bahwa pihaknya harus menghormati perasaan pembalap yang berada langsung di dalam mobil. "Seringkali Anda juga mengatakan kepada kami untuk mendengarkan pembalap karena mereka merasakan ban dan kondisi lintasan. Tapi untuk yang satu ini, saya pikir sudah jelas," tambahnya.
Hamilton, yang sedang kurang sehat dan absen dari sesi media, menyampaikan permintaan maaf melalui pernyataan resmi Ferrari. Ia mengakui bahwa keputusan untuk memulai dengan ban medium dan mencoba strategi satu kali pit stop tidak berjalan sesuai rencana. "Ban medium tidak bekerja sebaik ban soft. Saya melewatkan pintu masuk pit saat VSC, lalu memutuskan bertahan untuk menjaga posisi, tetapi degradasi ban sangat parah di akhir," kata juara dunia tujuh kali itu. "Ini pelajaran yang menyakitkan, dan saya bertanggung jawab penuh. Saya minta maaf kepada tim atas poin yang hilang."
"Ketika Anda melihat hasilnya, itu bukan keputusan yang bagus. Tapi di sisi lain, kami juga sering diminta mendengarkan pembalap karena mereka yang merasakan mobil. Untuk kasus ini, saya pikir sudah jelas. Namun saya tetap harus menghormati perasaan mereka saat berada di dalam mobil."
โ Fred Vasseur, Manajer Tim Ferrari
Insiden ini membuka diskusi lama dalam Formula 1: seberapa besar otonomi yang boleh diambil pembalap ketika data tim menunjukkan sebaliknya? Di satu sisi, pembalap memiliki intuisi langsung terhadap performa ban dan kondisi lintasan. Di sisi lain, engineer memiliki gambaran menyeluruh tentang strategi dan posisi pembalap lain. Vasseur mengakui dilema tersebut, namun ia menegaskan bahwa dalam situasi VSC, keputusan tim seharusnya dipatuhi karena menyangkut kepentingan kolektif.
Bagi Ferrari, hasil di Singapura menjadi pukulan telak dalam perebutan gelar konstruktor. Kehilangan poin berharga dari Hamilton memperlebar jarak dengan rival. Sementara bagi Hamilton, ini menjadi ujian mental dan kedisiplinan di musim perdananya bersama tim Maranello. Ia berjanji akan bangkit di balapan berikutnya.
Pertanyaannya, akankah Ferrari memperketat protokol komunikasi dengan pembalap, atau tetap memberi ruang bagi intuisi juara dunia? Yang jelas, insiden di Marina Bay akan menjadi bahan evaluasi panjang bagi kedua belah pihak.



