iStock Klaim 'Bebas AI', tapi Justru Dorong Pengguna Pakai AI Usai Beli Foto
Baca dalam 60 detik
- iStock, perpustakaan foto milik Getty Images, mengklaim koleksinya 'selalu bebas AI' namun menyediakan fitur edit berbasis AI setelah pengguna membeli gambar.
- Kontradiksi ini menyoroti dilema industri stok foto yang berusaha memuaskan kreator anti-AI sekaligus mengejar efisiensi teknologi.
- Langkah iStock dapat memengaruhi persepsi profesional kreatif dan mendorong pesaing untuk menyesuaikan strategi serupa.

iStock, layanan perpustakaan foto yang dimiliki Getty Images, berada di pusat kontroversi setelah mengklaim bahwa seluruh koleksinya "selalu bebas AI" tetapi secara aktif menawarkan alat pengeditan berbasis kecerdasan buatan kepada pengguna yang telah membeli gambar. Kontradiksi ini terungkap dalam pengalaman seorang pengguna yang menemukan bahwa setelah transaksi, antarmuka iStock mendorong kustomisasi gambar dengan AI, termasuk penghapusan latar belakang otomatis dan modifikasi objek melalui perintah teks.
Klaim "bebas AI" iStock selama ini menjadi nilai jual utama. Di beranda mereka, tertulis dengan bangga bahwa setiap visual dibuat melalui keahlian manusia, kreativitas, dan kecerdikan—tanpa campur tangan AI generatif. Namun, begitu pengguna mengunduh gambar, tombol "Customise this image" muncul, mengarahkan pada fitur AI yang dapat mengubah elemen seperti warna tanaman atau bahkan mengubah warna bak mandi menjadi merah muda terang. Ironisnya, fitur penghapusan latar belakang otomatis sering kali menghasilkan output yang tidak diinginkan, seperti menghilangkan konteks ruangan pada foto interior.
Praktik ini mencerminkan kegelisahan yang lebih luas di industri kreatif. Banyak kreator—fotografer, ilustrator, desainer—memandang AI generatif sebagai ancaman terhadap mata pencaharian dan hak cipta. Sebaliknya, sebagian pengguna melihat AI sebagai alat bantu yang mempercepat pekerjaan. Perusahaan stok foto seperti iStock dan Getty Images berada di posisi sulit: mereka perlu mempertahankan reputasi sebagai penyedia karya orisinal buatan manusia untuk menjaga kepercayaan kreator, tetapi juga tidak ingin tertinggal dari pesaing yang mengintegrasikan AI untuk efisiensi dan daya tarik bagi klien korporat.
"Ini situasi komikal di mana mereka mencoba memuaskan dua kubu sekaligus, tetapi goyah," ujar seorang pengamat industri yang tidak ingin disebutkan namanya.
Dampaknya terasa pada persepsi profesional. Fotografer yang mengandalkan penjualan lisensi mungkin merasa dilanggar ketika karya mereka diubah dengan AI tanpa kompensasi tambahan. Di sisi lain, klien korporat justru menyambut baik fitur editing instan karena menghemat waktu dan biaya produksi. iStock berusaha menyeimbangkan kedua kepentingan ini, namun eksekusinya menuai kritik karena dianggap tidak konsisten.
Bagi pasar Indonesia, fenomena ini menjadi cermin bagi platform stok foto lokal dan agensi kreatif. Dengan pertumbuhan ekonomi digital yang pesat, pelaku industri dalam negeri perlu mencermati bagaimana kebijakan AI memengaruhi nilai jual karya visual. Regulasi tentang hak cipta dan transparansi penggunaan AI masih menjadi pekerjaan rumah, sementara permintaan akan konten cepat dan murah terus meningkat. Langkah iStock bisa menjadi preseden tentang bagaimana perusahaan menavigasi tekanan global antara inovasi dan etika.
Ke depan, pertanyaannya: akankah iStock dan pesaingnya memperjelas batas antara karya manusia dan modifikasi AI, atau justru semakin mengaburkan garis tersebut demi kepentingan komersial? Tanpa kejelasan, kepercayaan kreator—tulang punggung industri—bisa tergerus, dan nilai jangka panjang layanan stok foto pun dipertaruhkan.



