Marquez Sebut Hasil MotoGP Mandalika 'Mimpi' di Sirkuit Terburuknya
Baca dalam 60 detik
- Marc Marquez mengumpulkan 22 poin dari kemenangan sprint dan finis keenam di GP Indonesia, tetap menjaga jarak dengan Jorge Martin.
- Sirkuit Mandalika selama ini menjadi momok bagi Marquez karena belum pernah finis di balapan utama, namun ia berhasil mengatasinya.
- Persaingan gelar juara MotoGP 2025 disebut Marquez masih terbuka antara dirinya, Martin, dan Marco Bezzecchi.

Marc Marquez mengaku lega setelah berhasil menyelesaikan balapan utama MotoGP Indonesia di Sirkuit Mandalika, Minggu (5/10/2025), meski hanya finis di posisi keenam. Pembalap Ducati itu sebelumnya belum pernah menuntaskan balapan Minggu di trek Lombok tersebut. Kemenangan di sprint race sehari sebelumnya menjadi modal berharga untuk menjaga peluang juara.
Dengan tambahan 22 poin dari dua balapan akhir pekan, Marquez sukses memangkas jarak dari pemuncak klasemen Jorge Martin. Pembalap Aprilia itu tiba di Indonesia dengan keunggulan dua poin, namun pulang dengan selisih yang sama karena hanya finis di urutan keempat pada balapan utama. Kondisi ini dinilai Marquez sebagai hasil ideal mengingat rekor buruknya di Mandalika.
“Pada Kamis, jika Anda bilang saya akan kehilangan tiga poin dari Bezzecchi dan menyamai Martin sepanjang akhir pekan, itu seperti mimpi,” ujar Marquez. “Di sirkuit terburuk bagi kami, kami menjalani akhir pekan yang hebat. Kami mampu konsisten, meski balapan sangat berat, terutama di paruh kedua. Saya hanya senang dengan hasil akhirnya.”
Pada balapan sprint Sabtu, Marquez memanfaatkan insiden tikungan pertama yang menyingkirkan Bezzecchi dan Raul Fernandez. Namun di balapan utama, duo Aprilia—Bezzecchi dan Martin—serta Ai Ogura mendominasi dengan finis 1-2-3-4. Marquez harus puas menjadi Ducati tercepat di posisi enam.
“Kami menderita karena degradasi ban tinggi dan saya harus mendorong keras sejak awal. Yang penting saya tahu cara bertahan dan menjadi Ducati terbaik. Kami telah menyelamatkan situasi,” kata Marquez.
Marquez menegaskan bahwa kunci keberhasilannya adalah fokus pada masa kini, bukan terbayang masa lalu buruk di Mandalika. “Saya tahu cara mengatasi banyak masalah selama akhir pekan, untuk fokus pada saat ini dan bukan masa lalu, karena saya belum pernah finis di balapan Minggu di sini,” tambahnya.
Meski Bezzecchi meraih kemenangan pertamanya sejak GP Italia Mei lalu, Marquez menilai perebutan gelar juara masih melibatkan tiga pembalap: dirinya, Martin, dan Bezzecchi. Pembalap Italia itu kini tertinggal 46 poin dari Martin dan 44 poin dari Marquez dengan lima seri tersisa. “Kejuaraan dunia ini antara tiga pembalap. Kita sudah lihat apa pun bisa terjadi. Bezzecchi memenangi dua balapan terakhir tahun lalu dan tiga balapan pertama tahun ini. Yang menyenangkan adalah saya melawan dua Aprilia,” tutupnya.
Dengan performa apik di sirkuit yang selama ini menjadi kelemahannya, Marquez membuktikan bahwa ia masih ancaman serius dalam perburuan gelar. Akankah konsistensi ini berlanjut di seri-seri berikutnya, atau justru menjadi titik balik bagi Martin dan Bezzecchi untuk menjauh? Persaingan menuju putaran-putaran krusial dipastikan semakin ketat.



