Astrofotografer Belanda Rampungkan Mosaik 110 Objek Messier, Habiskan 352 Jam dan Tidur di Mobil
Baca dalam 60 detik
- Cornelis van Zuilen menyelesaikan proyek ambisius memotret seluruh 110 objek Katalog Messier dalam satu mosaik.
- Butuh total 352 jam 13 menit pengambilan gambar, dengan sebagian sesi dilakukan dari pinggir lapangan semi-gelap hingga harus menginap di mobil.
- Karya ini menegaskan bahwa penjelajahan langit dalam tidak lagi eksklusif milik observatorium besar, tetapi bisa dijangkau astrofotografer amatir dengan peralatan komersial.

Astrofotografer amatir asal Belanda, ing. Cornelis van Zuilen, menuntaskan proyek luar biasa: memotret seluruh 110 anggota Katalog Messier—mulai dari galaksi, gugus bintang, hingga nebula—dan menyusunnya menjadi satu mosaik kosmik. Pekerjaan itu menelan waktu 352 jam 13 menit, tersebar di banyak malam, dengan sebagian sesi mengharuskannya tidur di dalam mobil demi mendapatkan horizon yang bersih.
Katalog Messier sendiri bukan daftar sembarangan. Disusun pada abad ke-18 oleh astronom Charles Messier, katalog ini awalnya dibuat untuk menandai objek langit yang samar dan mudah disalahartikan sebagai komet. Kini, daftar tersebut berubah menjadi semacam daftar buruan wajib bagi pengamat langit, memuat ikon seperti Galaksi Andromeda (M31), gugus terbuka Pleiades (M45), dan Nebula Orion (M42). Semua objek itu bisa dilihat dengan teleskop rumahan sederhana asalkan langit cukup gelap.
Van Zuilen memulai perjalanan ini pada 2024, ketika ia baru membeli kamera deep-sky berpendingin. Objek pertama yang ia bidik adalah Pleiades. Sekitar satu setengah tahun lalu, ia memutuskan untuk menuntaskan seluruh katalog. Peralatan yang dipakai mencakup teleskop Askar 103APO dan William Optics Redcat 51 MK2.5, dipadukan dengan berbagai kamera serta filter astronomi ZWO. Proses penyuntingan dilakukan dengan Photoshop dan perangkat lunak astronomi PixInsight.
Yang membuat proyek ini menantang adalah lokasinya. Belanda bukan tempat ideal untuk astrofotografi karena polusi cahaya dan cuaca yang sering mendung. Van Zuilen mengaku harus sering berpindah ke area semi-gelap di dekat rumahnya agar tidak ada pohon atau bangunan pertanian yang menghalangi pandangan. "Banyak malam saya tidur di mobil. Tapi jujur, saya menikmatinya, rasanya seperti berkemah," ujarnya kepada Space.com.
"Beberapa gambar sengaja saya buat lebih besar karena itu adalah favorit saya. Masing-masing punya cerita tersendiri, sehingga kolase ini terasa lebih personal," kata van Zuilen.
Mosaik ini bukan sekadar prestasi teknis. Ia menunjukkan bahwa astrofotografi deep-sky kini semakin terjangkau. Kamera pendingin, teleskop apokromatik, dan perangkat lunak pengolah citra telah menurunkan ambang masuk bagi penghobi. Jika dua dekade lalu hasil seperti ini hanya bisa didapat dari observatorium profesional, kini seorang amatir dengan peralatan komersial mampu menghasilkan citra setara.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan. Negara ini memiliki sejumlah lokasi dengan langit gelap, seperti Observatorium Bosscha di Lembang, kawasan Gunung Bromo, atau Taman Nasional Wakatobi. Komunitas astrofotografi lokal, misalnya di bawah naungan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta, juga terus tumbuh. Namun tantangan utamanya adalah polusi cahaya dan keterbatasan akses ke peralatan canggih. Kisah van Zuilen bisa menjadi pemicu bagi penghobi di Indonesia untuk memulai proyek serupa, memanfaatkan momen langit cerah di musim kemarau.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah seorang amatir bisa memotret seluruh Katalog Messier, melainkan berapa banyak objek langit lain yang akan terjamah oleh komunitas global. Dengan semakin canggihnya sensor dan teknik pemrosesan, batas antara astronom profesional dan amatir kian kabur. Van Zuilen sendiri telah membuktikan bahwa dedikasi dan sedikit kenekatan—termasuk rela tidur di mobil—bisa menghasilkan karya yang memukau.



