Game RPG China Angkat Mitologi Wales, Sinyal Representasi Budaya di Industri Game Global
Baca dalam 60 detik
- Reverse: 1999, game strategi time-travel asal China, menghadirkan karakter Rhiannon yang mengangkat mitologi dan bahasa Wales.
- Langkah ini dinilai membuka peluang representasi budaya non-dominan di industri game yang selama ini didominasi mitologi Norse, Yunani, dan Mesir.
- Kesuksesan karakter ini dapat mendorong pengembang lain mengeksplorasi warisan budaya lokal, termasuk Indonesia, sebagai sumber naratif yang kaya.

Industri game global kembali mencuri perhatian lewat kejutan budaya: sebuah game role-playing asal China, Reverse: 1999, memperkenalkan karakter bernama Rhiannon yang kental dengan nuansa Wales. Karakter ini bukan sekadar tambahan biasa—ia membawa bahasa, mitologi, dan tradisi Celtic ke panggung internasional, menandai babak baru dalam representasi budaya di dunia game.
Dikembangkan oleh Bluepoch, Reverse: 1999 adalah game strategi time-travel abad ke-20 yang menggabungkan elemen sihir dan sejarah. Rhiannon digambarkan sebagai pelatih burung mistis yang hidup menyendiri bersama kawanan Adar Llwch Gwin, burung raksasa cerdas dari mitologi Wales yang mampu menuruti perintah manusia. Menurut salah satu pendiri Bluepoch, KK, keputusan mengangkat Wales bukanlah kebetulan. "Kami merasa cerita rakyat, tradisi lokal, dan karakter Wales sangat cocok dengan tema cerita kami," ujarnya, seraya menambahkan bahwa dunia game yang penuh sihir menciptakan titik temu alami dengan warisan budaya Wales.
Yang menarik, Rhiannon bukan hanya tempelan visual. Bluepoch merancang penampilannya dengan menggabungkan elemen pastoral dan arcane—pakaian yang memadukan gaya penggembala dan penangkap burung, serta motif ritual Celtic, aksara Ogham, dan Tree of Life. Pendekatan ini menunjukkan riset budaya yang serius, bukan sekadar eksploitasi simbol.
Dari sisi pengisi suara, Rebecca Wang—aktris trilingual asal Asia-Amerika—mengaku sempat ragu karena tidak memiliki latar belakang bahasa Wales. Namun, ia tertantang setelah mengetahui bahwa studio hanya akan menggunakan bahasa Wales secukupnya untuk daya tarik global. "Saya cepat sadar bahwa bahasa Wales sangat mencintai huruf W sebagai vokal. Ada kata yang butuh pelafalan dari tenggorokan, seperti bechan," tuturnya. Ia pun memanfaatkan TikTok, YouTube, dan pelatih dialek untuk mendalami pengucapan, sebuah proses yang disebutnya "menyenangkan" dan memicu minatnya mengunjungi Wales.
Respons positif juga datang dari komunitas. Barry Pritchard, pemain asal Caernarfon yang telah lama memainkan game ini, mengaku senang meski pelafalannya kadang terdengar janggal. "Tidak banyak yang mencoba menghadirkan bahasa Wales dalam bentuk apa pun. Jadi setidaknya upaya ini patut diapresiasi," katanya. Ia bahkan menyoroti penyebutan lokasi seperti "pasar penyihir Caernarfon" dalam dialog game, yang menurutnya membuka mata. "Saya lebih tertarik mencoba sesuatu jika ada kaitan dengan bahasa Wales," tambahnya.
"Ada begitu banyak potensi yang belum tergarap dari cerita dan karakter Wales. Semoga perhatian pada game semacam ini membawa representasi yang lebih baik," ujar Aaron Elias, pengelola situs yang mempromosikan game dengan representasi Wales.
Aaron menilai sejarah Wales sangat cocok untuk game petualangan, dan para pengembang mulai menyadari bahwa ada mitologi lain di luar Norse, Yunani, dan Mesir. Ia merujuk pada Mabinogion, kumpulan cerita tertua di Inggris yang ditulis dalam bahasa Wales, sebagai sumber naratif yang kaya. "Industri game sekarang lebih besar dari film. Kami ingin melihat lebih banyak representasi Wales dan menarik perhatian ke negara ini," tegasnya, seraya berharap game bisa mengangkat profil Wales seperti yang dilakukan Rockstar Games untuk Edinburgh menjelang perilisan GTA 6.
Fenomena ini bukan sekadar kisah tentang satu karakter. Ini adalah cermin bagaimana industri game global mulai melirik budaya-budaya yang selama ini terpinggirkan. Bluepoch sendiri menyatakan keterbukaan untuk mengeksplorasi karakter Wales lainnya di masa depan jika ada cerita yang tepat. "Kami akan terbuka untuk menjelajahi budaya Wales melalui karakter mendatang," ujar KK.
Bagi Indonesia, langkah Bluepoch ini bisa menjadi pelajaran berharga. Dengan kekayaan mitologi Nusantara—dari Ramayana, Mahabharata, hingga legenda lokal seperti Malin Kundang dan Nyi Roro Kidul—peluang untuk menghadirkan narasi budaya Indonesia di game global masih sangat terbuka. Beberapa pengembang lokal sebenarnya telah mencoba, tetapi dukungan dan riset mendalam seperti yang dilakukan Bluepoch masih jarang. Jika industri game nasional mampu mengemas warisan budaya dengan standar global, bukan tidak mungkin game buatan Indonesia dapat menembus pasar internasional dan memperkuat diplomasi budaya.
Ke depan, pertanyaannya: akankah lebih banyak pengembang mengikuti jejak Bluepoch, atau justru kembali terjebak pada mitologi mainstream yang sudah jenuh? Representasi budaya bukan hanya soal identitas, tetapi juga peluang pasar yang belum tergarap. Wales telah membuktikan bahwa cerita lokal bisa mendunia—dan Indonesia memiliki bahan bakar yang tak kalah kaya.



