Game Science Tolak AI demi Christopher Nolan, Black Myth: Zhong Kui Tetap Tanpa Tanggal Rilis
Baca dalam 60 detik
- Game Science memutuskan tidak memakai AI generatif untuk pengembangan Black Myth: Zhong Kui, terinspirasi pendekatan sinematik Christopher Nolan.
- Sikap ini kontras dengan gelombang adopsi AI di industri game global yang kian masif.
- Belum ada jadwal peluncuran sekuel, studio memilih jalur pengembangan tanpa tekanan waktu.

Studio asal Tiongkok, Game Science, menegaskan tidak akan menggunakan kecerdasan buatan generatif dalam produksi sekuel Black Myth: Wukong, Black Myth: Zhong Kui. Keputusan ini diambil bukan karena keterbatasan teknis, melainkan karena kekaguman salah satu pendirinya pada metode kerja sutradara Christopher Nolan.
Dalam sesi tanya jawab yang baru-baru ini diterjemahkan, salah satu pendiri sekaligus direktur seni Game Science, Yang Qi, menyatakan bahwa pihaknya akan menghindari AI "sampai akhir". Ia merujuk pada cara Nolan menggarap film The Odyssey yang dianggap mampu menghidupkan kembali teknik-teknik sinematik lama di tengah dominasi produksi digital dan pascaproduksi 3D yang dinilai mulai menemui titik jenuh.
Pernyataan Yang Qi menyoroti perdebatan yang lebih luas di industri game: penggunaan AI generatif untuk aset visual, suara, hingga narasi. Sejumlah pengamat menilai alat-alat ini sering menghasilkan karya yang kurang matang dan berpotensi mengikis kesempatan pengembang muda mempelajari proses kreatif secara mendalam. Namun, banyak studio besar justru mempercepat adopsi AI demi efisiensi biaya dan waktu produksi.
"Di saat pembuatan film digital dan pascaproduksi 3D tampak menemui jalan buntu, lihat Nolan… ia justru berkembang dengan teknik-teknik yang lebih tua untuk menciptakan sesuatu yang baru," ujar Yang Qi, seperti dikutip dari sesi tanya jawab tersebut.
Pendekatan Game Science ini menjadi semacam pernyataan budaya. Black Myth: Wukong sendiri mengangkat kisah Journey to the West, salah satu epos klasik Tiongkok yang paling berpengaruh. Menariknya, sumber inspirasi mereka—The Odyssey karya Homer—juga merupakan kisah kuno yang telah diadaptasi berkali-kali. Pertemuan dua warisan naratif dari era berbeda ini menunjukkan bahwa keunggulan sering kali lahir dari pendalaman tradisi, bukan sekadar pelarian ke teknologi terbaru.
Bagi industri game Indonesia, sikap Game Science bisa menjadi cermin. Studio-studio lokal yang tengah tumbuh menghadapi dilema serupa: mengadopsi AI untuk mengejar ketertinggalan, atau membangun kapasitas kreatif dari keterampilan dasar. Keputusan untuk menolak AI bukan berarti anti-teknologi, melainkan strategi mempertahankan keunikan artistik dan proses pembelajaran yang membutuhkan waktu. Di pasar global yang makin kompetitif, diferensiasi justru menjadi kunci bertahan.
Hingga kini, Game Science belum mengumumkan jadwal peluncuran Black Myth: Zhong Kui. Salah satu pendiri studio menyebut "tidak perlu terburu-buru", sinyal bahwa mereka memprioritaskan kualitas dan visi ketimbang tekanan pasar. Pertanyaannya, akankah pendekatan berbasis keahlian manusia ini mampu bersaing dengan gelombang produksi berbantuan AI yang kian deras? Waktu yang akan menguji, tetapi setidaknya satu studio memilih berjalan di jalur yang berbeda.



